
Mulanya saya tak memperhatikan. Tetapi karena selama menunggu pengemasan parsel buah pesanan panitia kecil saya punya waktu, maka saya berkesempatan untuk memperhatikan hal-hal sepele. Salah satunya kantong plastik keresek.
Kios buah yang laris ini cerdik: tak perlu memesan tas keresek dengan nama dan logo toko. Cukup membeli yang siap pakai, dengan tulisan generik. Tertulis pada kantong: “buah segar” dalam huruf kapital. Di bawah gambar buah ada teks “jual bermacam-macam buah”. Simpel. Hemat. Semuanya dalam satu warna tinta.

Cara ini serupa kardus penjual martabak, penjual eceran kue basah, dan katering kecil. Lumrah jika dus makanan bertuliskan “selamat menikmati”. Namun saya pernah menjumpai kotak plastik thin wall wadah nasi kuning bertuliskan “nikmatilah”.
Untuk keperluan branding, juragan kios itu memakaikan baju maupun kaus, gonta-ganti, untuk belasan anak buah — aha, istilah itu tjotjok nian — dengan punggung bertuliskan nama usaha: Mugi Barokah. Mungkin bagi si bapak buah, buat apa memberikan kantong gratis berlogo, padahal sudah dihitung dalam biaya, tetapi tak dibaca konsumen.


2 Comments
Karena tidak ada taste khusus yg dijual selain kesegaran.
Malah Jadi perkara Kalau si kresek yg berbranding toko buah itu dipake untuk mbungkus sampah berupa sisa buah yg tak termakan Dan terlanjur busuk. Bisa timbul spekulasi macam macam yg tak perlu.
Tapi bisa Jadi Ini lift up yg belum sampe ke Sana, Kalau brandnya sudah cukup kuat Dan punya Pasar specific, bisa Jadi akan ke Sana. Saya ingat ada toko buah lama di semarang yg pake kresek spesial (yg ada tatakan kardusnya) yg bercap brand tokonya. Entah Masih ada atau tidak. Tokonya ndak begitu besar, ndak mewah Dan nggak punya appearance generic kayak supermarket fresh product atau frozen model Sekarang, tapi customernya sudah mature
Nah, itu itu dia. Posisi di benak konsumen.