Warung dengan banyak lauk dan nyamikan

Warung macam ini bisa memenuhi hasrat orang dremba.

▒ Lama baca < 1 menit
Warung Jadoel, Temanggung, Jawa Tengah, Kompas — Blogombal.com
Foto: Kompas / Ferganata Indra Riatmoko

Malam ini, pukul 20.39, Kompas.id menerbitkan sejumlah foto Temanggung, Jateng, hasil jepretan hari ini. Mungkin sekalian melengkapi peliputan demo sopir truk di Parakan. Ada satu foto yang mengesankan saya. Kapsinya:

Warga membeli hidangan di Warung Jadoel, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (20/6/2025). Warung yang diyakini sebagai warung makan pertama di Temanggung itu terus diminati oleh penggemar kuliner dan warga yang mengadopsi gaya hidup ‘slow living’ hingga saat ini.

Saya baru tahu. Oh, nyamleng sekali. Warung dengan meja mengelilingi kaveling penyaji, di atas alas bertingkat terhidang aneka lauk dan nyamikan atau pacitan.

Tampaknya warung ini lebih lengkap daripada angkringan dan warung soto yang menempatkan pikulan di tengah apitan pengudap. Pun lebih lengkap daripada warteg. Hanya wong dremba, rakus, yang sanggup melalap setiap sampel setiap piring.

Lama saya tak mengalami jajan di warung seperti ini. Mana nyamikan dan mana lauk, misalnya tersedia nasi, bisa bertukar peran. Bagi saya, tahu isi atau tahu susur untuk digado, tetapi tahu dan tempe bacem bisa untuk lauk dan nyamikan.

Dulu di Jalan Adi Sucipto, Yogyakarta, ada soto Miroso yang sekarang kurang enak. Di sana ada meja panjang, di atas meja, tengah, berderet aneka makanan.

Di daerah, dekat pasar yang bukan di kota, biasanya ada warung seperti dalam foto. Salah satu yang saya ingat adalah warung di Pasar Kemiri, Kutoarjo. Enak? Biasa saja sih, itu pun dulu saat saya kuliah.

Juga dulu, untuk mempersempit pemilihan, masuklah ke warung yang banyak kalendernya. Itu pemberian sopir dan verkoper. Kini tak semua perusahaan membagikan kalender dinding yang gambarnya bisa kembar dengan perusahaan lain, hanya logo perusahaan yang beda. Sebelum era cetak digital on-demand, logo kalender adalah hasil sablonan.

Di pasar hewan daerah, yang hanya buka pas hari pasaran, misalnya setiap Legi, seperti di Salatiga dulu, juga ada warung macam itu. Langganan para blantik. Belum tentu enak sih, apalagi nasinya. Di warung macam itu dulu tak ada mi instan maupun kopi sasetan bergula.

Oh, nostalgia. Saya memang wong tuwèk, senang menoleh ke masa lalu. Ini penyakit umum. Anda yang lebih muda dari saya juga akan mengalami.

Tentang nyamikan, ternyata KBBI V punya arti yang kedua, sebagai kiasan: “wanita untuk pelepas hawa nafsu; pelacur”. Waduh.

8 Comments

mpokb Sabtu 21 Juni 2025 ~ 15.40 Reply

Seneng lihat warung begini. Bakal bingung beli yg mana, ehehe. Btw baru tahu kata “pacitan” selain nama kota 🙏

Pemilik Blog Minggu 22 Juni 2025 ~ 00.57 Reply

Di Salatiga ada kedai Lawuh Ndeso. Harus cermat, jangan lapar mata apakah bayar di muka. Kalo gak cermat setelah selesai makan bisa nyesel, kadung kenyang.

https://www.instagram.com/lawuhndesosalatiga?igsh=MTNvMTliZGQ0dWhjZA==

@sandalian Sabtu 21 Juni 2025 ~ 09.32 Reply

Di Pasar Njambon, di ringroad barat Jogja, terdapat sebuah warung sate kambing dengan tampilan dan interior sederhana.

Setiap lewat sana, sering terlihat para pinisepuh berambut putih penuh sedang mengudap bersama teman-temannya.

Saya jadi menduga-duga, mungkin ini warung favorit mereka jaman masih muda.

Pemilik Blog Sabtu 21 Juni 2025 ~ 11.20 Reply

Wah menarik ini. Boleh jadi.
Tapi warung lama bisa berubah karena ganti koki atau… lidah kita berubah akibat banyak menjelajah 😇

Junianto Sabtu 21 Juni 2025 ~ 00.15 Reply

Dremba = badhoger😁 = ngawulo waduk😁😁

Pemilik Blog Sabtu 21 Juni 2025 ~ 08.58 Reply

Karung bergigi, kata bloger Mbilung Ndobos.

@sandalian Sabtu 21 Juni 2025 ~ 09.29 Reply

beliau sekarang mulai menulis lagi di ndobos dot com.

Pemilik Blog Sabtu 21 Juni 2025 ~ 14.55 Reply

Waaaaa baru tahu. Tadi langsung ke sana 🙏👍

Tinggalkan Balasan