Kita butuh lapangan, setidaknya tanah lapang

Pesepak bola top memang bermain sejak kecil, tak harus di lapangan bola.

▒ Lama baca < 1 menit

Anak bermain bola di lapangan basket Chandra Baru, Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Sore, pukul lima seperempat, beberapa anak masih bermain bola plastik di lapangan basket. Nanti sebelum azan magrib mereka sudah membubarkan diri.

Mereka beruntung, kompleks perumahannya memiliki lebih dari satu lapangan olahraga. Yang paling luas disebut lapangan kuda, berumput, dan pernah diincar pemkot untuk membangun SD.

Apakah lapangan olahraga dan taman di permukiman, tak hanya kompleks, kian berkurang? Pemkot yang punya datanya. Kalau tanah lapang sih masih ada, berupa halaman antar-rumah maupun lahan menganggur. Tetapi luasannya terus berkurang antara lain digantikan rumah. Jika gang bisa dimasuki mobil, lahan kosong bisa disewakan sebagai area parkir (¬ arsip: contoh #1 dan #2).

Lapama kuda Chandra Baru, Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Dalam asumsi naif saya, yang bukan penggemar sepak bola, kalau bidang lahan untuk bermain bola menyedikit, akan sulit kita memiliki banyak pesepak bola wahid di luar hasil naturalisasi. Tentu ada persoalan peta jalan (bahasa Indonesia yang pas untuk roadmap apa sih?), termasuk pembinaan dan kompetisi, untuk menjadi kampiun mondial.

Bangsa yang tak mengenal ski salju maupun bobsled atau bobsleigh takkan menghasilkan atlet di cabang itu, bukan? Eh, tetapi Jamaika pernah ikut bobsled dalam Olimpiade Musim Dingin 1988 di Calgary, Kanada, yang kemudian mengilhami film Cool Runnings (Jon Turteltaub, 1993).

Tinggalkan Balasan