
Senja kemarin penjemput saya di Stasiun Gambir, Jakpus, membawa saya singgah ke Sarinah. Saya terkesan oleh eskalator jadul yang dipertahankan di sana sebagai artefak yang dimuliakan. Yang namanya sejarah tak hanya peninggalan kolonial Belanda.
Saya ingat, pada 2017, ketika blog ini masih saya kunci, pernah mengeposkan eskalator itu. Sangat ringkas, saya tulis sembari ngopi sendirian di kedai dekat sana.
Selama 2015—2019 saya berkantor di Jatibaru, Jakpus, sehingga cukup akrab dengan kawasan sekitar Sarinah, termasuk saat pulang jalan kaki ke Stasiun Gondangdia. Kadang saya berbelanja di Hero Sarinah. Bagi saya, Sarinah sekarang membuat saya jadi orang udik tetapi saya terkesan dan suka.
Foto eskalator itu dulu saya foto sebagai siluet. Saat itu saya tak tahu bahwa Sarinah akan didandani menjadi lebih cantik supaya tak sekadar menjadi pusat perbelanjaan tua.
Semasa saya bocah, di daerah, luar Jakarta, eskalator hanya ada di film dan majalah. Maka anak-anak kecil sering menyebut eskalator sebagai es yang paling tidak enak.
Di Yogyakarta, setahu saya, bioskop yang pertama kali memakai eskalator itu Mitra, di sebelah Rahayu, Jalan Urip Sumoharjo, akhir 1980. Lantai atas untuk bioskop non-sinepleks, lantai bawah untuk toserba seperti Sami Jaya di Malioboro.
Lantas lima tahun kemudian setelah Mitra ada bioskop Mataram yang bereskalator. Eh, saya malah tak yakin apakah dulu di Mataram ada eskalatornya. Maaf, mulai pikun.
Dulu, di mana pun, umumnya orang ketika akan mencoba eskalator tampak kikuk, takut terpeleset atau jatuh terjengkang, terutama orang-orang tua. Tetapi tidak untuk anak-anak. Umumnya anak kecil memang kêndêl, berani mencoba hal baru, kurang hirau bahaya.


2 Comments
Istri saya selalu ngati-ati sangat, kalau mau naik eskalator karena takut terpeleset atau jatuh terjengkang. Sampai sekarang.
Wajar. Manusiawi.
Saya setelah kadang ngliyeng juga 🙏😇