
Silakan baca berita di atas. Itu rubrik Sungguh Sungguh Terjadi (SST) koran Kedaulatan Rakyat (KR) , Jogja, edisi hari ini (Rabu, 14/5/2025). Si pengirim tulisan melaporkan kejadian 11 April 2015. Namun bukan tarikh yang membuat saya berpikir. Melainkan isinya.
Saat ini ponsel berkamera adalah milik hampir setiap orang yang masih membeli koran. Maka saya punya pertanyaan: mengapa redaksi tak sekalian menyediakan ruang untuk foto penyerta tulisan?
Maksud saya jika tulisan kiriman pembaca tersebut memang layak menyertakan foto, mengapa tidak? Dalam contoh berita di atas adalah tulisan larangan membuang sampah.
Perkara resolusi foto agar layak cetak dapat diinformasikan. Ya, kebutuhan resolusi gambar di web dan aplikasi ponsel itu berbeda dari koran karena media cetak membutuhkan resolusi lebih tinggi.
Foto juga layak untuk SST di bawah ini, dalam KR edisi kemarin (Selasa, 13/5 /2025). Maksud saya, foto SST dalam koran yang harus dibeli untuk ketiga kalinya itu dapat disertakan.

Maka kalimat dalam judul pos ini sesungguhnya menggugat KR: untuk sekian dasawarsa SST terbit ketika fotografi belum menjadi kebisaan setiap orang. Kini siapa pun mudah memotret dan membagikan jepretan via WhatsApp. Dalam terminologi canda awal 2000-an di milis dan blog: tanpa gambar berarti hoax.
Foto dalam SST juga bisa disebarkan di media sosial. Ada tambahan arsip digital publik dari foto artefak koran sebelum media cetak yang itu punah.

2 Comments
Foto terakhir itu menarik: SST tentang SST :))
Jadi penasaran, di pemuatan untuk kedua kalinya itu apakah Pak Dariyo harus membeli edisi tersebut sampai tiga kali juga? 😀
Lha ya itu Mas.
Kalau saja SST memuat foto seperti di medsos