
Dalam foto peserta Golek Garwo (cari istri/suami) di Bantul, DIY, terbaca tulisan nama diri di dada: Pram. Saya tak tahu di mana Pram mengenakan kostum superhero, sejak dari rumah ataukah di tempat tujuan. Dan adakah lawan jenis yang terpikat?
Kapsi foto Kompas (Minggu, 4/5/2025) tersebut menuliskan:
Seorang peserta Golek Garwo mengenakan kostum pahlawan super Flash di Kantor Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Minggu (20/4/2025). Golek Garwo diselenggarakan Forum Ta’aruf Indonesia (Fortais) untuk memfasilitasi kaum lajang yang ingin mencari jodoh potensial.
Laporan bertajuk “Cari Jodoh Memang Sulit…” tersebut mengatakan jumlah hadirin sekitar 500 orang sehingga, “Aula kantor kecamatan sampai pengap lantaran kebanyakan orang.” Entahlah apakah Pakde Superhero kebal sumuk.

Tersebutkan juga peserta termuda 20-an tahun dan paling tua 70 tahun. Artinya masalah jomlo rindu jodoh tak kenal usia apalagi cuaca.
Sepenggal alinea mencatat:
“Saya tidak memaksa. Saya tahu diri,” canda peserta paling tua setelah sempat tertidur sejenak di kursi. Para peserta tertawa.
Sentuhan humor itu diperlukan dalam jurnalistik tetapi jangan sampai memperolok dan mempermalukan subjek berita dengan opini. Sampaikanlah fakta.
Sudah beberapa kali Kompas melaporan masalah perjodohan dalam liputan mendalam. Kali ini dilengkapi laporan “Dari Algoritma Turun ke Hati“, yang menampilkan juga sekian jenis platform dan forum komunitas, termasuk khusus untuk Muslim, namun tetap menyisakan pertanyaan.

Bagi saya ada dua pertanyaan yang belum terjawab:
- Berdasarkan data, lebih mudah mana, perempuan ataukah pria dalam menemukan jodoh?
- Dari jenis kelamin yang sulit memetik jodoh, apa saja masalahnya?
Ada yang bilang jodoh itu misteri. Ada orang yang bisa gonta-ganti pacar dan mudah beroleh suami/istri, namun ada pula yang hingga lanjut usia lanjut tak mendapatkan tambatan hati untuk mengisi dermaga berdua sampai hari tua.
Zaman makin modern, sejumlah misteri konon dapat dipecahkan, dalam arti terbuka rahasia masalah dan solusinya, bukan terpecahkan dalam arti berbiak misterinya menjadi kian mbulet.
Biro jodoh sejak dulu ada. Abad lalu ada Yasco di Jakarta. Kompas selama 1980-an hingga 2000-an punya rubrik Kontak. Seiring pertumbuhan internet, layanan model lama itu pun surut dan tersingkir.
Namun dengan banyaknya layanan via internet, mendapatkan jodoh bukan sekadar pacar ternyata sukar. Ya, jodoh. Bukan pacar apalagi cuma pasangan kencan beberapa saat. Kalau bicara kebutuhan, setiap orang butuh pasangan dengan sekian gradasi kerumitan.
Kompas mencatat soal kopdar pemburu jodoh, yang diikuti dua pria dan dua wanita:
Tak ada percakapan berarti yang terjadi. Hening menebalkan kecanggungan di antara orang-orang yang belum saling kenal ini. Saat mati gaya, ponsel di saku akhirnya jadi penyelamat untuk menyibukkan diri.
Ironis. Berburu calon jodoh via ponsel. Setelah kopdar malah kikuk dan kembali ke ponsel. Tak ada hati terjerat memori ponsel, padahal kuota internet bukanlah sandungan.
Jatuh cinta pada pandangan pertama bukan hal mudah. Untunglah bahasa Jawa punya pemeo witing tresna jalaran saka gila (baca: tresno dan gilo). Ada optimisme terhadap proses asmara dalam tamsil.
Jodoh seret bin alot? Persoalannya bukan semata-mata pemodelan skematik ceruk bersua isi; bagi kaum heteroseksual dewasa asal ketemu lawan jenis belum tentu berarti oke. Manusia dan hamster itu berbeda.
Di negeri yang permisif terhadap promiskuitas pun jodoh tetap menjadi masalah. Jodoh bukan cuma urusan seksual orang dewasa, yang asal mau sama mau ya ayuuukkk. Tetapi benarkah hidup di tengah masyarakat permisif lebih nyaman bagi kaum yang resminya lajang?

2 Comments
Dulu, di 1970-an, Pak De saya bercerita bahwa lelaki usia 16 tahun bisa menikah karena ia tak perlu ribet dengan “barang bawaan”. Kini? Tidak.
Yah, sistem sosial dalam beberapa hal kian kompleks. Yang menarik adalah berkah saat pandemi: menikah cukup di KUA, tanpa resepsi. 😇