
Tadi pagi sekira pukul tujuh udara masih sejuk, suhu di area saya menurut laporan ponsel saya 23° C. Kelembapan 30 persen. Kalau saja Kobek, ya Kota Bekasi, begini terus alangkah nyamannya.
Tiba-tiba saya ingin punya termometer lagi, cukup yang berisi alkohol karena murah; memang sih kurang akurat. Kalau beli termometer higrometer analog dengan jarum harganya ratusan ribu sampai jutaan rupiah.
Semua termometer kayu saya pecah tabung alkoholnya karena jatuh. Akhirnya saya malas beli, pecah, beli, pecah. Termometer jatuh dan rusak karena saya pindah-indah saat mengukur suhu udara. Misalnya ke teras, jendela ruang makan, teritis dapur, dan seterusnya. Tidak setiap hari sih.

Siang tengah hari tadi cuaca mulai menghangat, 30° C. Kelembapan 66 persen. Makin tinggi tingkat kelembapan makin sumuk. Cuaca panas hampir 40° kalau kering tidak sumuk, tetapi kulit akan busik — kecuali terlapisi losion atau krim pelembap.
Tadi pagi selain sejuk, padahal jendela belum saya buka, lantai keramik juga dingin sekali. Saya terbiasa beralas kaki dalam rumah, maka ketika telapak kaki menyentuh ubin terasa disergap benda dingin. Wah, perlu pengukur suhu permukaan agaknya. Tetapi apakah stik termometer digital untuk akuarium, yang ketlingsut, bisa mengukur suhu lantai?

Abaikan cerita alat ukur tadi. Itu cara kuno. Kini dengan ponsel maka laporan cuaca saat ini sudah tersaji. Prakiraan — yang sering kita sebut ramalan — cuaca juga termutakhirkan dalam ponsel yang terhubung ke internet. Masalahnya, apakah setiap hari kita menengok info cuaca di ponsel?
Tentu tergantung kebutuhan dan kebiasaan. Saat cuaca mengalami anomali seperti sekarang, padahal Anda harus bepergian atau menjemur kerupuk mentah dan karpet kena ompol, maka ramalan cuaca Anda butuhkan.
Dahulu kala ketika cuaca sesuai pola buku pelajaran, maka prakiraan cuaca di televisi, terutama TVRI, terasa kurang penting. Bahkan muncul pelesetan pada abad lalu tatkala semua kota punya atribut: Semarang Atlas, Salatiga Hatti Beriman, New York berawan, Makkah cerah…

