
Dia bertanya, “Masih ngeblog ya?”
Aku jawab, “Ya.”
Aku tak perlu menyebutkan alamat blogku karena dia tak menanyakan. Dia juga pernah ngeblog, lalu berhenti dengan alasan butuh energi dan waktu, lagi pula pembacanya sedikit.
Tentang alamat blogku, yang sempat enam tahun aku kunci, memang banyak yang lupa. Dahulu saja tak semua bloger tahu, karena saking banyaknya blog, apalagi kini ketika blog adalah jalan sunyi yang belum tentu berpotongan. Aku pun lupa apa saja alamat blog yang dahulu aku ketahui dan kunjungi. Adil.
Kemudian menyusullah tanya, “Lalu soal sakitmu kamu tulis, kayak jurnal?”
Niatku tersenyum tetapi di mata siapa pun tarikan bibirku aneh, asimetris, karena kelumpuhan separuh wajahku belum selesai. Untunglah dia paham, bahwa senyumku yang gagal adalah sebuah afirmasi.
“Apa saja yang kamu ceritakan? Rasa sakit, obat, harapan cepet sembuh, lalu apa lagi?”
Dengan suara kurang jelas karena pelafalan oleh mulutku masih kagok, aku jelaskan bahwa jurnal pasien versiku aku mulai dari visual. Memotreti apa yang ada di sekitarku saat aku hanya bisa berbaring di ranjang. Setelah aku lebih kuat, foto itu aku jadikan cerita.
“Jadi kamu nggak bahas sakitmu?”
“Buat apa terus-menerus berbagi hal yang menurutku derita, padahal orang lain ada yang jauh lebih menderita, bahkan keluarganya juga menderita karena kerepotan? Lebih baik berbagi spirit dan optimisme.”
“Juga pake humor garing yang jadi style kamu nulis?”
Waspadai serrrr di kepala apalagi disusul plenthing di telinga

3 Comments
Waduh, humor Paman perlu disiram banyak air, nih, biar teles, nggak garing lagi.😁
Biar yang garing saja. Secukupnya, seperlunya. 🙏