Hampir celaka di lampu merah

Mengapa bisa tiga empat generasi abai aturan lalu lintas? Karena diwariskan melalui praktik sehari-hari.

▒ Lama baca < 1 menit

Motor di lampu merah melanggar aturan

Pagi itu ojek yang saya tumpangi berhenti dengan perlambatan wajar di lampu merah. Dalam sekejap, ruang di belakang garis depan antrean dijejali sepeda motor. Lalu datanglah sepeda motor, penunggangnya bersetelan cokelat muda, langsung mengisi ruang di sebelah markah. Dia mengambil ruang di lajur untuk kendaraan dari arah berlawanan.

Misalnya ada kamera CCTV, pasti dia terekam. Namun peristiwa ini pun klise. Tak menarik untuk dibahas. Memang demikian cara masyarakat kita berlalu lintas. Sudah berlangsung tiga empat generasi, diwariskan melalui praktik percontohan sehari-hari. Misalnya mereka ditilang, itu karena apes. Lalu nanti mengulangi lagi.

Kemudian lampu berganti hjau. Semua kendaraan yang mengantre pun bergerak. Ojek saya juga, mengarah lurus ke depan. Motor sebelah, yang tak memboncengkan penumpang, juga bergerak, malah lebih cepat, seolah melesat, langsung belok kanan.

Tiba-tiba dari belakang melesat cepat Kawasaki Ninja yang berderum-derum, juga di luar lajur, bergerak lurus. Saya menduga dia akan menabrak motor yang tadi di sebelah saya.

Ternyata tidak. Si Ninja lincah berkelok menghindar, seperti bola ditendang dengan garis melengkung menyamping ke kanan, kemudian bergerak ke kiri. Motor yang hampir dia potong itu pun selamat, hanya sepersekian detik terkurung Ninja, tanpa tersenggol. Saya melihat bahasa tubuh si pemotor yang hampir tertabrak itu santai saja.

Ini bukan soal kelincahan bersepeda motor. Ini soal keselamatan berlalu lintas. Untuk si Ninja dan pemotor berpakaian cokelat muda, juga yang lain. Di dalamnya ada penghargaan terhadap hak pengguna lain di jalan dan juga nyawa orang lain — selain nyawa diri sendiri.

Tetapi ini Indonesia. Catatan macam ini bakal mengundang ledekan, “Sampean orang mana? Warga baru di Indonesia ya?”

3 Comments

junianto Jumat 2 Februari 2024 ~ 20.15 Reply

Malu juga saya baca konten beginian. Soalnya saya kadang masih melanggar aturan lalu lintas, baik di lampu merah (misal lampu merah tetap bablas saat sepi karena masih subuh atau malam-malam) maupun bukan di lampu merah (misal tak pakai helm di jalan raya tak jauh dari rumah).

Pemilik Blog Sabtu 3 Februari 2024 ~ 07.26 Reply

Soal beginian ini yang penting kita ada keinginan memutus mata rantai pewarisan perilaku.

Bapak yang suka ambil bahu jalan tol akan ditiru anaknya. Begitu pun yang suka parkir sembarangan.

Tinggalkan Balasan