↻ Lama baca < 1 menit ↬

Jasa pembungkusan kado di Jatimekar, Jatiasih, Bekasi

Toko kecil itu mengesankan saya karena spanduknya menyatakan “terima jasa pembungkusan kado”. Saya tak masuk toko untuk memastikan apakah berarti barang untuk hadiah boleh bawa sendiri.

Kado. Bingkisan. Hadiah. Tanpa mengemasnya secara khusus, telanjang apa adanya, kita anggap kurang istimewa. Pengecualian berlaku untuk barang yang kemasannya sudah cantik, misalnya cokekat, atau hadiah tak perlu memberi efek kejut bertahap misalnya ponsel.

Satu hal yang menarik dari bungkus kado adalah dia dirancang untuk dinikmati sekilas oleh penerima. Setelah itu bungkus dirobek begitu saja. Ada juga yang membukanya berhati-hati agar bungkus tetap utuh lalu dilipat, padahal tak akan dipakai ulang.

Membungkus kado bukan pekerjaan mudah kalau ingin tampak indah. Maka banyak toko menyediakan jasa pembungkusan kado. Yang pasti menyediakan adalah toko atau konter perlengkapan bayi.

Maka aneh juga. Membungkus kado itu dengan susah payah, tetapi setiba di tujuan hanya diamati sekilas. Makin banyak kado yang didapat makin tak ada waktu untuk mengamati. Sebagian generasi boomers ketika menikah mengalami mendapatkan hadiah berupa barang.

Acara membuka kado harus melibatkan anggota keluarga, demikian pula menata barangnya, belum lagi mencatatnya. Urusan macam ini bisa tak beres dalam semalam. Mempelai sudah menguap, mata berkaca-kaca, karena kelelahan.

Soal lain, di Jogja pernah ada anekdot: sebagian besar kado manten berupa pecah belah akhirnya kembali ke asal, yakni Toko Progo. Lalu barang yang sama jadi kado lagi, dan dijual ke toko yang sama.

Kado kita serap dari bahasa Belanda. Bahasa Belanda lama dulu masih menuliskannya sesuai cara Prancis: cadeau.

Abad lalu, tahun 1970-an, majalah wanita memiliki dua macam bonus. Pola jahit baju dan kertas kado yang disingkat “tasdo”. Semuanya terlipat, dijilid di halaman tengah. Ya, mirip bonus psster.