↻ Lama baca < 1 menit ↬

Memancing ikan di polder malam hari

Tadi, tentu sudah malam, sekira pukul sepuluh kurang seperempat, saya lihat beberapa orang sedang memancing dari luar pagar polder. Seorang ibu yang menunggui suami dan dua anak lakinya mengail mengatakan, “Daripada bengong di rumah, Pak.”

Proyek itu tampaknya sudah jadi, tetapi saya tak tahu apakah pompa sudah terpasang. Pekan lalu, saat hujan deras, jalanan di sekitar polder banjir, sampai selutut orang dewasa.

Saya cari tahu penyebabnya, ternyata belum ada serah terima proyek sehingga tak ada petugas yang menjaga polder.

Baru tadi saya tahu di sana ada ikannya karena ada yang memancing. Saya tanya seorang pemancing, apa saja ikannya. Dia katakan hanya lele. Oh, sejak kapan polder itu ditaburi lele? Pemancing di sebelah pria tadi bilang, “Baru kemarin, Pak.”

Memancing ikan di polder malam hari

Lalu saya bertanya apakah sudah dapat ikan, dia mengiakan. “Nih, Pak,” sahutnya sambil menunjuk ember. Karena embernya hitam, lele itu tak terlihat. Saya meminta izin untuk memotret hasil pancingan. Dengan santai dia rogoh ember tanpa takut kepatil, lalu lele dia letakkan di atas konblok trotoar.

Saya membatin, lelenya sudah besar, baru sehari ditaburkan sudah dipancing. Kalau semua orang saban hari mengail, dan jumlah pemancing terus bertambah, rapat mengitari pagar, dan setiap orang mendapatkan hasil setidaknya dua ekor, apakah dalam dua minggu lele tak habis? Lain soal jika lele-lele anakan juga ditanam di polder.

Betul, terminal bayangan itu akan jadi polder

Kapan rampungnya? Liat bacaan di papan!