↻ Lama baca < 1 menit ↬

Merayakan atau tidak, mestinya setiap orang dapat THR Lebaran dan Natal

“Pusing nih Mas soal THR. Aku kan udah lama gak dapet THR,” keluh Peter Peret.

“Lha iya, wong kamu ndak merayakan Lebaran,” sahut Kamso.

Lalu Peter seperti memutar ulang trek lagu. Dia nggak cuma harus kasih THR dan ongkos pulkam buat ART, tetapi juga petugas ronda yang bawa map door to door atas seizin RT dan RW, petugas sampah, sampai pemulung, “Dari dulu emang gitu, tapi aku sebelumnya kan mampu, tapi sejak kena PHK gara-gara pandemi ya aku seret rezeki.”

“Lha mereka kan merayakan Lebaran. Ya kita beri sebatas kemampuan kita, tapi kalo ART wajib, kayak ngasih pegawai dan ASN,” sahut Kamso.

“Iya sih. Tapi pengeluaran menjelang Lebaran kan naik, harga-harga naik, Mas.”

“Lha Lebaran itu kan perayaan semua orang, festival masyarakat. Kalau Idulfitri memang untuk muslim. Kamu kalo Lebaran juga dapat antaran makanan kan? Nggak perlu masak. Waktu kamu masih kerja di tempat lama, saben Natal maupun Lebaran setiap karyawan tanpa pandang agama dapat THR, kan? Itu pun kalian masih berharap setelah Imlek diakui pemerintah lalu ada THR Imlek. Mestinya kamu bersyukur, Peter.”

“Hehehehe. Iya ya, Mas. Mestinya pemerintah bikin aturan THR Lebaran dan Natal itu wajib diberikan buat semua karyawan swasta maupun ASN, tanpa pandang agama. Kan udah ada contoh bagus di tempat kerja saya dulu? Kalo berlaku nasional kan itu menggerakkan ekonomi, Mas.”

“Kaum pekerja sih seneng, apalagi kalau semua pemeluk agama yang ada ditjennya di Kemenag dapat THR. Tapi pengusaha ama menteri keuangan nggak seneng. Kas bisa jebol. Kamu pasti juga keberatan ngasih dua THR buat ART, satpam dan lainnya.”

¬ Gambar praolah: Shutterstock

Dapat THR Natal dan Lebaran, cuti tak hangus, dan kenaifan