↻ Lama baca 2 menit ↬

Buat apa ngeblog? Buat apa susah? Hahahaha

Tentu tak ada yang bertanya begitu karena sungkan. Tak sopan. Aku hanya menyimpulkan sendiri dari sekian pertanyaan seputar blogku.

Jawabanku serupa pengamen dengan lagu andalan — kalau aku bilang repertoar atau reprise terlalu keren. Aku ngeblog karena suka, untuk memperlambat laju amnesia, dan supaya tak mengganggu orang lain dengan menulis panjang di WhatsApp, terutama grup.

Ada alasan tambahan juga: tulisan dalam blog ini terarsipkan.

Alasan ekstra yang lebih masuk akal: sama-sama menulis dengan ponsel lebih baik untuk blog saja ketimbang untuk WhatsApp. Energi yang keluar sama.

Ada yang bertanya apakah aku tak bosan? Kadang. Jawaban “kadang” juga berlaku untuk malas dan tak sempat. Tetapi pembaca setia blog ini tentu meragukan jawaban macam itu.

Sampai kapan aku ngeblog? Entah. Ini juga lagu lama.

Sebenarnya ada pertanyaan lain dari sejumlah orang. Kalau aku kemas sebagai ungkapan lugas: sampean sudah terlupakan kenapa masih berjuang untuk diingat dan dikenal lagi?

Jawabanku sederhana. Aku belum pernah tenar, sehingga tak perlu berjuang untuk diingat lagi. Misalnya pun ada sejumlah orang mengenali aku sebagai (bekas) bloger, atau antara ingat dan lupa, ya silakan saja. Maaf, maksudku juga terima kasih.

Jangankan aku, orang terkenal pun — termasuk dengan prestasi kriminal — akhirnya juga dilupakan. Nama yang tiga tahun lalu banyak disebut dalam berita dan media sosial kini ibarat stiker pudar pada tiang gardu jaga. Peronda yang bertugas pun tak membacanya.

Internet membanjirkan informasi secara bandang, jauh meninggalkan perbandingan dengan era koran umum di balik kaca, pun masa kertas bungkus bisa menjadi bacaan. Senyampang dengan kederasan informasi, kapasitas daya ingat tak ikut melar. Waktu baca pun makin terbatas karena video dan interaksi virtual sungguh menyita waktu padahal semenit tetap enam puluh detik.

Lalu, bukankah ngeblog hanya suatu kesia-siaan selain menambah belukar dalam belantara teks? Mungkin.

Nah, kini sampailah pada persoalan dalam tajuk tulisan. Membandingkan diri dengan S.H. Mintardja tentu sebuah kepongahan nan lancang.

Dahulu karena serial Api di Bukit Menoreh tak kunjung tamat, menjadi cerber di koran Kedaulatan Rakyat selama 31 tahun, dan 34 tahun sebagai serial buku 396 jilid, para penggemar bergurau tak sopan: siapa yang akan selesai lebih dahulu, karya atau penulisnya?

Sang Waktu telah menetapkan garis. Pak Singgih Hadi Mintardja wafat dalam usia 66 tahun pada 1999, sebelum serial itu tamat.

Pada diriku, dalam urusanku dengan blog, juga sama, tetapi bukan pada mutu diri dan tulisan. Mungkin aku lebih dahulu selesai. Mungkin juga blog ini yang selesai karena domain dan hosting tamat kontrak. Isi blog ini bukan serial, namun bisa saja suatu saat tak ada pemutakhiran isi, yang ada hanya arsip lama, serupa isi sejumlah map tebal tanpa penyiangan dalam rumah Pak RT.

Hal serupa terjadi pada pemilik akun di Facebook, Twitter, Instagram, Tiktok, dan platform lainnya. Jika pun usia semua layanan itu panjang, usia pemilik akun belum tentu. Bahkan pemutakhiran kontennya pun bisa tamat mendahului pemilik akun.

Sesederhana itu. Tak ada yang romantis. Lalu semua tulisan dan gambar lenyap, kecuali ada dukungan penyimpanan di tempat lain, semacam Wayback Machine, dan itu pun belum tentu ada yang membacanya.

Bukan sesuatu yang pahit. Itu kewajaran belaka.

Lantas ketika semasa hidupnya seseorang membuat konten apapun di media sosial, untuk kemudian terlupakan, sehingga layak disebut kesia-siaan, kenapa dilakukan?

Orang yang menanam dan merawat bunga, atau memelihara ikan di akuarium, tak pernah memikirkan keabadian. Mereka hanya ingin melakukan sesuatu yang mereka sukai selagi masih hidup. Dari kesementaraan tak perlu ada yang diwariskan.