↻ Lama baca < 1 menit ↬

Mengkhawatirkan botol bayi hilang di buk luar rumah

Di atas buk*, pada teras samping rumah yang sebelumnya adalah warung, tampak sebuah botol. Tak ada yang menjagai. Pagi itu saya langsung menebak pasti ada seseorang sedang momong balita tapi bukan si pemilik rumah. Saya terus berjalan.

Setelah berbelok di pengkolan saya bersua seorang oma. Dia mendorong kereta bayi. Cucu perempuan di dalamnya. Oma mengiakan waktu saya memastikan itu botol si gadis kecil. “Biarin aja, Oom. Biasanya juga aman,” ujarnya.

Aman. Memang mestinya begitu. Mungkin saya yang kadang kelewat waswas. Ada saja kejadian di banyak lingkungan barang sepele di luar rumah raib. Bahkan penjepret tikus, baru beli, yang belum memakan korban, baru saya pasang malam, paginya raib. Mungkin digondol tikus besar berkaki dua.

Rasa aman itu mahal. Melebihi harga sepatu slip-on bulukan saya di teras yang hilang saat hujan. Dahulu nian. Abad lampau.

Rasa aman sangat mahal, melebihi tabung gas melon warung tetangga yang diambil pemuda, dan terekam CCTV, namun pemilik warung setelah itu ketakutan. Rasa aman melebihi harga burung piaraan yang diembat maling dan tanaman dalam pot kecil yang lenyap.

Tetapi ini kan cuma botol plastik, harganya murah, bukan milik saya, kenapa saya mengkhawatirkannya?

Rasa aman yang terkikis, ditambah ketidakrelaan, bisa merusak jiwa.

*) Buk adalah bangku permanen dari semen, kadang merangkap penyekat atau pagar. Lihat desain Ahmadi di Sketchup. Untuk berita buk jembatan lihat Malang Times dan Harian Merapi.