↻ Lama baca < 1 menit ↬

Blogombal.com masih ngeblog sampai kemarin

Aku merasa seperti orang yang memencet tombol shuffle dan replay untuk trek lagu tak sampai sepuluh, atau mungkin cuma lima tembang, tentang alasan ngeblog. Itu melulu jawabanku.

Oh ya, tambah satu lagi: bisa memanfaatkan ponsel untuk memotret dan bikin ilustrasi dari aset foto pihak lain.

“Sampean keras kepala. Nggak move on,” katamu.

Aku mengiakan dengan jawaban defensif, “Nggak merugikan orang lain, kan?”

Lalu seperti aku duga, kamu menganjurkan aku bikin konten di YouTube dan TikTok. Jawabanku tetap wagu, “Entar kalo udah pengin lalu belajar.”

Dan seperti biasa, kamu seperti pengamat sekaligus konsultan media sosial, “Konten yang bener itu video dan audio podcast.”

Lagi-lagi jawabanku tak bermutu, “Aku malu muncul di YouTube kecuali aku punya reputasi kayak Om Mobi yang selalu pake masker. Aku juga nggak pede main di podcast, soalnya artikulasiku jelek pol.”

“Kalo gitu sampean nggak usah main medsos, nggak usah ngeblog. Balik aja ke FB, bisa nulis panjang, ada yang baca, ada yang bereaksi, ada yang merespons.”

“Oke. Terima kasih. Nanti ya,” jawabku.

“Emang masih ada orang buang waktu baca blog sampean? Maaf kalo aku terlalu blak-blakan.”

“Masih. Emang nggak sebanyak dulu zaman rame blog sih.”

“Mereka subscribers atau datang dari referrals?”

“Paling banyak ya tersesat karena Google. Aku sih nggak pake SEO macam Yoast Premium soalnya harus bayar, belum lagi harus otak-atik ini itu yang nggak seasyik nulis posting.”

“Uh, susah amat ya diajak maju.”

“Lha daripada kamu, ngeblog nggak, main YouTube nggak, TikTok juga nggak. Di IG cuma jadi pemantau, kayak di Twitter, akun kayak saham tidur di bursa. Di FB juga udah cabut. Jangan-jangan di WAG juga bakal berhenti nulis panjang, kayak di milis belasan tahun lalu. Kalo di forum masih ya?”

Profesor Jarkoni, bisa ngajari ndak bisa nglakoni…