↻ Lama baca < 1 menit ↬

Alasan menolak gereja sebenarnya sederhana, tak mau ada sesuatu yang beda, tapi akhirnya ruwet

“Kenapa ada kasus Cilegon, wali kota ikut tanda tangan spanduk nolak gereja? Sebelumnya ada larangan bergaul dengan yang beda agama? Kita kok mundur, ya?” tanya Jafar Kopisusu.

Kamso menjawab, “Yah, gitu deh.”

Lalu obrolan mengalir. Jafar tak terima, merasa agamanya dipermalukan.

“Lha itu kamu, malu. Yang nolak gereja sama melarang bergaul beda agama nggak malu tuh. Berarti kamu bermasalah,” canda Kamso.

Soal menolak pembangunan gedung gereja ini ada saja. “Ruwet,” kata Jafar.

“Minta izin nggak dapet. Katanya warga nggak ngasih. Lalu biasanya muncul kabar pemalsuan tanda tangan. Kalo bener, ya diperkarakan saja. Tapi boleh ajukan izin lagi. Simpel kan?”

“Simpel kalo di Kabupaten Bekasi, Oom Kam. Sebagian besar dari 1.600-an masjid dan musala nggak punya IMB. Dewan Masjid Indonesia pernah mengakui. Nggak jadi masalah tuh!”

“Sebenarnya ini masalah yang merasa bagian dari mayoritas nggak rela melihat sesuatu yang beda di tengah mereka. Bisa mengatasnamakan tradisi dan sejarah, dengan kata kunci ‘mayoritas’. Nggak cuma di Cilegon. Tapi nggak semua warga mayoritas gitu, kan?”

“Tapi misalnya ada isu bikin masjid di suatu tempat dipersulit, kenapa mereka yang sebarisan sama yang nolak gereja kok nggak terima?”

“Bersikap dan berbuat adil, termasuk terhadap diri sendiri itu sulit.”

¬ Gambar praolah: Shutterstock