Bagi banyak keluarga Indonesia, pengeluaran terbesar adalah untuk pendidikan anak, sejak TK hingga universitas. Gerbong belakang generasi boomers (kelahiran 1946—1964), dan gerbong depan generasi X (1965—1980), yang punya anak lebih dari dua pasti punya dana cukup untuk pendidikan anak.
Itu tadi kesimpulan saya. Lha biaya anak mahal kok punya banyak anak, sampai empat lebih, padahal tak ada yang kembar. Kalau keuangan tak kuat bisa berat. Sepanjang awal kawin hingga pensiun masih direpoti biaya pendidikan anak — apalagi jika pasangan itu menikah setelah 30+ dan anaknya banyak.
Lalu andaikata setelah anak lulus sarjana dan bekerja, gajinya tak berselisih jauh dari tamatan SMA, oh berat juga.
Menurut analisis koran Kompas, pada tahun 1993 selisih upah lulusan perguruan tinggi mencapai 157 persen lebih tinggi ketimbang lulusan SMA. Saat itu, upah bulanan lulusan SMA rata-rata Rp153.509 per bulan. Lulusan universitas mendapatkan upah bulanan sekitar Rp395.167 per bulan.
Kini lulusan SMA pada 2022 rata-rata mendapatkan upah Rp2,7 juta, sedangkan lulusan universitas rata-rata Rp5,2 juta per bulan. Artinya pada 2022 selisih upah lulusan SMA dengan universitas menjadi 88 persen. Ada penurunan hingga hampir 70 persen dari tahun 1993 (¬ Kompas.id) .
Jika kita bicara jumlah anak, mungkin ada sanggahan memangnya anak hanya dilihat sebagai biaya?
Apabila kita bicara gaji dalam hubungannya dengan tingkat pendidikan, bisa jadi muncul tangkisan apakah memberikan pendidikan tinggi hanya untuk mengisi pasar kerja?
Ya, jawaban terhadap kedua hal itu bisa panjang. Dari sisi ekonomika, pendidikan anak adalah investasi, bukan hanya bagi masa depan si anak tetapi juga bangsa, negara, dan lain sebagainya.
2 Comments
Lha itu 🙊
pas pensiun BEP dng biaya kuliah ;)