↻ Lama baca 2 menit ↬

Ihwal khasiat alamanda (Allamanda cathartica) sebagai obat herbal

Tadi pagi tampak alamanda berbunga, hanya dua yang mekar penuh. Saat menjepret dengan berjinjit dan menaikkan tangan, saya pun membatin biasanya tanaman tertentu punya khasiat. Lalu saya cari di Google. Hasilnya?

Seperti saya duga, yang segera muncul adalah konten media berita. Tersebutkan alamanda dapat mengobati anu, anu, dan anu, tetapi tanpa menyebutkan rujukan yang otoritatif. Malah ada yang menyebutkan sebuah blog personal yang tak jelas rujukannya.

Artinya, jika masyarakat umum dalam menulis asal merujuk media berita bisa keblondrok karena isi artikel media kadang sumir. Jika menyangkut khasiat tanaman, selain jelas rujukannya mestinya ada pemerian bagian apa yang dimanfaatkan, lalu direbus atau ditumbuk misalnya.

Untuk informasi umum, saya membandingkan info ringkas tiga badan pemerintah tiga negeri ihwal alamanda sebagai tanaman hias, yakni Indonesia (Kebun Raya Bogor), Singapura (National Parks Flora & Fauna Web), dan Australia (Children’s Health Queensland Hospital and Health Service). Dua yang pertama adalah situs tentang koleksi tanaman, semacam katalog, sedangkan yang ketiga adalah situs kesehatan.

Ihwal khasiat alamanda (Allamanda cathartica) sebagai obat herbal

KRB dan NParks sekilas menyebutkan khasiatnya, sebagai bagian dari paparan sosok si Allamanda cathartica. Dalam hal pemanfaatan untuk pengobatan etnobotanis, NParks memberikan disklaimer panjang, intinya: laman merujuk bahan yang otoritatif, namun info tentang khasiat bukan untuk pembaca praktikkan sendiri, jadi silakan berkonsultasi dengan dokter.

Sedangkan situs kesehatan Pemerintah Queensland, sesuai bidangnya, selain memerikan profil alamanda juga menyebutkan tingkat bahaya semua bagian tanaman jika dimakan, dapat mengakibatkan diare dan muntah. Kontak dengan kulit dapat mengakibatkan gatal.

Tetapi laman tersebut memberi catatan ihwal risiko: “Semua bagian tanaman dianggap beracun meskipun buktinya kecil.” Ada kehati-hatian.

Laman tersebut mengelompokkan alamanda ke dalam tanaman beracun, dengan peringkat dua untuk potentially toxic dan tiga untuk irritant, dengan skala 1-4. Jika mengalami gejala seperti tersebutkan tadi, segera hubungi dokter.

Dari BRIN, LIPI, dan Kementan belum saya temukan info untuk awam. Adapun dari sejumlah universitas, ada beberapa artikel ilmiah tentang alamanda, namun lebih bersifat kajian banding kandungan kimia secara medisinal maupun industrial sebagai pewarna alami. Terlalu teknis bagi awam, apalagi yang jurnal.

Ihwal khasiat alamanda (Allamanda cathartica) sebagai obat herbal

Saya membayangkan, Indonesia nan tropis dengan keanekaragaman hayati yang kaya membutuhkan info otoritatif tanaman untuk awam. Termasuk bahaya tanaman bagi anak-anak.

Lho bukannya sejak dahulu anak-anak aman saja bermain di kebun, ladang, sawah, dan sungai, mereka tahu apa saja yang tak layak digigit apalagi dimakan?

Ya sih, tetapi info tersebut sudah menjadi pengetahuan bersama justru karena dahulu orangtua dan anak tak mengandalkan informasi dari ponsel. Kini setelah informasi berlimpah, orang malah bisa kebingungan mendapatkan informasi yang tepat — bahkan media berita pun bisa begitu.

Eh, tetapi tentang dunia anak-anak, saya malah berpikir lain. Apakah anak kota kecil dan terlebih kota besar di Indonesia masih dekat dengan alam?

Maaf pertanyaan saya naif.