↻ Lama baca < 1 menit ↬

Kini sebagian urusan kerja bisa dilakukan di ponsel, tak perlu laptop

Ketika melihat sebuah cuitan di Twitter, saya pun mencoba becermin: apakah alat kerja saya juga makin ringkas?

Kini saya tak pernah menggunakan laptop karena sejak pandemi order seret dan akhirnya padam. Untuk ngeblog, termasuk olah gambar, bahkan membuat tabel sederhana untuk saya unggah ke Datawrapper (lihat: “From Citayam with Luv“), saya menggunakan ponsel.

Tiga pekan lalu laptop saya keluarkan dari lemari, saya taruh di meja makan yang lebih bersih, karena OS dan lainnya saya mutakhirkan. Setelah itu laptop tetap di sana dengan harapan ada alasan untuk memakainya, lagi pula pengguna meja makan sedikit.

Tentang peranti kerja, saya mengalami masa-masa gelap di beberapa kantor, meja penuh kertas berupa buku, majalah sampai fotokopian, plus ATK antara lain pensil untuk kaca yang saya pakai mencoreti art paper. Seperti adegan film lawas yang menampilkan meja wartawan. Tidak bisa hanya berisi kopi dan komputer.

Wartawan dan kantor redaksi pun merokok

Foto-foto suasana kerja media zaman dahulu ada saja meja berasbak dan wartawan merokok. Saat itu media juga leluasa memuat iklan rokok.

Wartawan dan kantor redaksi pun merokok

Kini dengan ponsel, sebagian urusan bisa di sana. Kelak alatnya ada di bawah kulit tangan kita.

Tetapi bagi kaum pemberi kerja, dalam bidang apapun, kalau dengan alat lama seratus hasil selesai dalam enam jam, maka dengan teknologi baru dalam enam jam harus menghasilkan 1.234.567 keluaran — celakanya jam kerja tak berkurang karena pasar masih dapat menyerap. Jangan protes, karena robot siap menggantikan.