↻ Lama baca < 1 menit ↬

Pejabat mengakui suka film porno, pantas nggak sih?

Sambil menahan tawa, Kamsi bertanya apa benar Ganjar Pranowo suka nonton film porno. Teman-temannya, mayoritas kaum ibu, membahasnya di grup.

“Udah lama, dua tahun lalu, di acara Deddy Corbuzier. Terus kemarin ada yang ngangkat lagi di medsos tapi nggak heboh. Kayaknya sih berhubungan dengan pemanasan pilpres,” kata Kamso.

“Tapi bener Ganjar ngaku gitu, Mas?”

“Iya, hanya satu ocehan dari sekian banyak topik di podcast Deddy, tapi jadi judul.”

“Di satu sisi nggak salah, itu kan tontonan orang dewasa. Yang penting nggak nge-share, soalnya ada UU ITE dan UU Pornografi. Tadi di grup juga pada ketawa ketika banyak yang ngaku liat film romantis yang uhuy jadi serrrr… grenggg… Hihihihi…”

“Emang buat orang dewasa. Hahahaha…”

“Tapi kalo mau dibawa ke isu capres berarti dibenturkan ke agama?”

“Bisa ya bisa nggak. Tapi menyangkut seks kan semua agama melarang percabulan. Malah ada agama, nggak cuma satu, yang mengenal berzina dalam hati. Di medsos, pernah kejadian perempuan liat atlet ganteng buka kaus bilang rahimnya jadi anget ”

“Tapi kenapa Ganjar ngomong gitu, dengan alasan udah dewasa, punya istri?”

“Nah itulah. Semua orang dewasa tahu tentang erotika dengan sekian gradasi estetika. Kalo ngomong ya tergantung forumnya. YouTube tuh ditonton banyak orang. Fans Ganjar juga anak-anak bawah umur. Aku sih paham maksudnya, dia nggak mau hipokrit. Dan dia nyantai aja. Nyatanya penceramah yang guyon nyerempet juga ada, kadang menjadikan perempuan sebagainya objek, tapi nggak jadi masalah.”

“Eh napa ya Mas, kadang soal susila lebih diutamakan, tapi kesalehan sosial kayak nggak dianggap sebagai akhlak. Misalnya kebersihan, antre di toko dan jalan, parkir di depan gerbang orang saban hari, bikin bising, atau korupsi?”

¬ Gambar praolah: Shutterstock