↻ Lama baca < 1 menit ↬

Seni menikmati hidup pria lajang, kawin bukan prioritas kecuali kelak sudah ingin

Di teras rumah panggung yang terpencil, satu kilometer dari jalan raya di wilayah Kabupaten Bogor yang jauh dari Jakarta, Darmanto Ceklik mengulang apa yang pernah dia katakan kepada pasangan Kamso dan Kamsi, “Ya inilah tempat persembunyianku. Sebelum ada pandemi, cuma aku tempati akhir pekan. Setelah ada WFH ya sering di sini, pake tethering dari hape. Terpaksa masang penguat sinyal.”

Si Dar, demikian pasangan itu memanggil, tampak nyaman dengan kehidupannya. Dia bekerja sebagai orang keuangan, mulanya sejak muda indekos lalu menyewa paviliun di Kebayoran Baru, Jaksel, dianggap sebagai keluarga oleh pemilik rumah, namun akhirnya Dar membeli studio di apartemen supaya tak rikuh jika ada teman menginap.

Ketika Si Dar mengenang hal itu, Kamsi menyergah, “Lha iyalah, yang nginep cewek.” Mereka bertiga tertawa.

Lalu di atas lahan 300 meter persegi yang sudah lama dia beli di luar kota, Si Dar membangun rumah panggung berangka baja. Buku tak membuat sesak karena dia ketat membatasi jumlah. Begitu melebihi rak, buku lama dia hibahkan ke orang.

Ada pelbagai tanaman hias maupun sayur di pondok itu karena penunggu rumah merangkap tukang kebun, kadang dibantu tetangga.

“Nggak pernah ada yang datang ke sini?” tanya Kamsi.

“Ini wilayah pribadiku, Mbak. Di sini aku mengasingkan diri, menjauhi dunia, kayak begawan,” sahut Si Dar.

Dalam perjalanan pulang, Kamsi menanya Kamso kenapa Si Dar tak mau pondoknya diketahui orang.

“Demi privasi dan keamanan to ya,” sahut Kamso.

“Keamanan? Bukannya kalo malam ada penjaga khusus?”

“Kalo cewek tahu rumahnya entar ada yang ngebruk, wegah mulih. Kalo di apartemen dia di Jakarta kan cewek nggak bisa gitu. Security udah nyegah.”

“Enak ya jadi cowok lajang punya duit? Keren lagi. Usia udah lima puluh lebih masih merdeka. Entar kalo udah ngerasa saatnya nikah tinggal milih bini.”

“Bukan cuma cowok. Cewek juga bisa.”

“Huuuuu….”

¬ Gambar praolah: Shutterstock, Livingasean.com

Pria (dan perempuan) antikomitmen

Romansa tentu butuh, tanpa harus mempersuami lelaki