↻ Lama baca < 1 menit ↬

Libur 1 Juni juga berlaku untuk orang yang menolak bahkan ingin menghapus Pancasila.

Pakde Ngabdul yang masih bugar di usia 70 lebih, dan masih telaten membimbing anak-anak mengaji, menanya Kamso, “Mas Kam, hari libur 1 Juni buat siapa?”

“Lha ya buat semua orang, Pakde. Hwaduh Pakde ini ada-ada saja pertanyaannya. Pasti ada sesuatu,” sahut Kamso.

“Menurut Njenengan, orang yang anti-Pancasila, bahkan mau bikin negara sendiri, tapi di wilayah Indonesia, juga berhak merayakan?”

“Lha ya to, Pakde. Dari sisi kalender ketenagakerjaan ini memang hari prei. Kalo kantornya tutup, mosok memaksakan diri masuk kerja? Malah merepotkan satpam dan boros listrik sama ngabisin isi galon.”

“Maksud saya bukan itu. Mereka itu paham nggak, masalahnya bukan hanya hari libur, tapi Pancasila.”

“Wah harus ditanya Pakde. Orang yang menolak Pancasila pasti punya alasan karena sudah mempelajari sampai khatam. Mosok menentang sesuatu tanpa mendalami?”

“Ya begitulah, Mas. Saya menolak Marxisme dan komunisme karena sudah saya pelajari sejauh saya mampu.”

“Jadi masalahnya apa, Pakde?”

“Banyak! Soal pemahaman sejarah dan wawasan itu yang mendasar. Waktu habis reformasi saya heran dan prihatin ada yang memperjuangkan Piagam Jakarta hidup lagi. Lalu ada yang mau mewujudkan khilafah, menamatkan demokrasi.”

“Oh begitu ya, Pakde. Lalu kembali ke soal hari libur 1 Juni gimana?”

“Terlalu panjang buat dibahas. Njenengan sebetulnya mudheng tapi pura-pura nggak paham. Ya, to?”

“Nyuwun pangapunten, Pakde.”

“Gini deh supaya Njenengan bisa tambah pura-pura bingung. Di perusahaan yang juga kasih THR Natal dan Lebaran, kenapa yang nggak mau mengucapan selamat Natal juga dapat THR?”

“Lho beda masalah, Pakde. Itu hak karyawan, sudah diatur dalam peraturan perusahaan, dan nggak ada syarat harus bersedia mengucapkan selamat Natal. Masa tunjangan dihubungkan sama akidah dan kerelaan dalam relasi sosial?”

“Lha tenan, to? Njenengan sering berkelit dengan alasan formal normatif, mengabaikan sisi yang seolah nggak keliatan. Cuma baca line by line, bukan between the lines.”

Membajak demokrasi

Demokrasi itu seperti pasangan, kadang mengecewakan

Agregasi, lalu segregasi, untuk kepentingan politik