↻ Lama baca < 1 menit ↬

Buku doa ukuran saku edisi 1966

Buku doa, dalam ukuran lebih kecil dari buku saku, ada di semua agama. Kini setelah semua informasi ada dalam ponsel — termasuk doa, renungan, dan khotbah — masih menarikkah buku kecil keagamaan bagi kalangan milenial dan generasi Z?

Yang saya maksudkan adalah kemasan fisiknya, yaitu buku, bukan kontennya. Dalam sebuah KRL saya pernah melihat seorang pria di atas 60 tahun, berkacamata tebal, berdiri sambil membaca buku kecil setebal jempol bertuliskan aksara Arab yang juga kecil yang setiap halamannya terbingkai ornamen. Saya menduga itu buku agama Islam, mungkin malah Alquran. Tetapi lebih dari sekali saya melihat orang muda membaca teks Arab dalam ponsel, kadang bibirnya bergerak-gerak. Saya tak tahu itu teks apa, tetapi saya mengandaikan itu buku keagamaan. Tata visual di layar tampak seperti buku, bukan web biasa.

Dulu, sebelum ada smartphone, saya teringat cerita seorang kakek kepada saya, istrinya menegur kenapa bangun pagi pukul lima langsung duduk diam di bibir ranjang melihat ponsel. Ternyata si kakek, yang aktivis gereja itu, berlangganan SMS premium doa pagi dan renungan.

Buku Doa, Buku Lama, dan Ketikan Bablas…