↻ Lama baca 2 menit ↬

Lima belas tahun lalu saya menulis di blog soal panggilan Mbak. Seorang anak perempuan di Bogor tak suka ibunya dipanggil Mbak oleh tetangganya, perempuan Jawa kelahiran Bogor, karena Mbak adalah panggilan untuk ART. Juga saya tulis seorang direktris perusahaan penerbitan bilang, “Gue Padang, jangan manggil Mbak.”

Di grup penerbit itu memang berlaku panggilan Mas dan Mbak, kecuali terhadap para sepuh generasi pendiri. Maka OB dan sopir hingga satpam pun bisa menyapa direktur majalah Mas Widi atau Mas Elwin — padahal dia Batak.

Tanpa pandang etnisitas, semua orang di perusahaan itu dijawakan. Sobat saya, cewek Cina, dengan geli bilang, “Baru di sini aku dipanggil Mbak. Tapi aku suka, Mas.”

Saya paham, saat itu, di luar lingkungan internalnya, terutama perkantoran modern, teman-teman Cina tak nyaman dipanggil Koko, Koh, Engkoh dan Cici, Enci, Tacik, dan Cik. Saya juga tak melakukan re-sinofikasi, atau pencinaan kembali dalam arti peyoratif, terhadap mereka.

Meskipun DKI punya pemilihan Koko dan Cici Jakarta, saat Ahok menjadi wagub dan kemudian gubernur, kesan saya publik enggan menyebut dia Koh Ahok atau Ko(ko) Ahok — kecuali masyarakat keturunan Cina dalam acara informal saat bersua dengannya.

Kembali ke Mbak dan Mas. Semuanya tergantung konteks. Setelah saya tua, saya memanggil beberapa pria dan perempuan muda dewasa Mas dan Mbak. Serupa Pak RT saya dulu menyapa saya sebagai bapak muda warga baru: Mas Antyo.

Nah, soal konteks ini multifaset, kaya akan nuansa. Dulu pada era Soeharto berkuasa, setahu saya orang hanya menerapkan Mas untuk Tommy dan Mbak untuk Tutut, tapi tidak untuk anak dan menantu lain Keluarga Cendana. Lalu Jokowi di depan publik menyebut Nadiem Makarim itu Mas Menteri, seperti ada rasa sayang seorang Pakde terhadap keponakan. Gita Wiryawan kadang keceplosan menyebut Sri Mulyani itu Mbak, padahal dalam video yang sama kadang menyebut Ibu. Sebelum Megawati menjadi presiden, panggilan publik untuknya adalah Mbak Mega. Soal ini perlu pembahasan khusus di posting lain.

Kini juga lazim jika orang menyebut Mbaknya untuk ART dalam pekerjaan domestik. Misalnya, “Yang belanja dan masak ya Mbaknya.” Siapa namanya tak penting.

Mbaknya adalah generik. Serupa Masnya, misalnya, “Tadi Masnya kurir paket bilang anu.” Padahal si kurir belum tentu orang Jawa.

Saya, sebagai orang Jawa, pada 2001 menahan tawa saat seorang karyawan baru, karyawan pertama, asal Temanggung, bertanya, “Masnya ada tugas untuk saya?” Saya bilang belum, silakan pulang, lalu dia menanya lagi, “Masnya kok belum pulang?”

Setelah masuk anggota tim berikutnya, rekrutan baru, Masnya dijawakan jadi Masé. Nama itu terus melekat hingga kini, setelah kami bubar pada 2007.

Lalu ada pula mbak-mbak dan mas-mas. Ini bukan hanya generik tapi berbau pelabelan: orang-orang-orang biasa, ordinary people, mungkin Jawa, dan kadang dipertautkan dengan status sosio-ekonomi. Sulit menjelaskan kepada orang asing kalimat, “Parfumnya kayak mbak-mbak.” Penerjemah film Mengejar Mas Mas (Rudi Sujarwo, 2007) ke bahasa Inggris, misalnya ada, pasti bisa menjelaskan.

Lalu panggilan Kak, dari Kakak, sebagai pengganti Mbak di lingkungan kerja? Tolong Anda koreksi kalau saya salah: ini lazim kalangan generasi milenial dan Z. Mungkin sejak sepuluh tahun lalu. Mereka meneruskan kelaziman di sekolah dan kampus yang sebetulnya juga dialami generasi di atasnya.

Bagi saya, kalau orang tidak mau dijawakan ya jangan dipaksa. Masalahnya saya kadang tak tahu dia Jawa atau bukan. Terhadap pemilik warung Padang saya selalu menyebut Uda dan Uni. Tetapi tiga kali saya mengalami, di warung berbeda, ternyata mereka bicara ngapak. Mereka orang Banyumas.

Kak untuk pria, yang terkenal ya Kak Seto. Oh, generasi baby boomers pasti ingat pria bernama Kak Didu — bukan Said Didu. Kalau sebutan Kakak Pembina, kini bagian dari isu buzzer atau pendengung pro-Jokowi.

¬ Gambar praolah: Shutterstock; hak cipta foto asli penjual jamu belum diketahui, saya mengambil dari Semarangpedia.com

Simbok van Bandoeng