↻ Lama baca 2 menit ↬

Bayar tagihan listrik bisa tebus murah di minimarket

Ketika melihat promo yang hampir tamat masa berlakunya di Alfamidi saya agak menyesal karena saya sudah membayar tagihan PLN di Tokopedia. Lalu saya ingat kisah masa lalu soal bayar listrik. Tak dapat imbalan berupa apapun.

Dulu, abad lalu, saya mengalami membayar listrik, harus nengantre lama di loket inkaso, mampir saat berangkat kerja. Begitu lamanya antrean sehingga saya selalu membawa bacaan, bisa komik, majalah, tabloid, maupun buku. Karena asyik membaca, saat nama dalam rekening dipanggil (bukan nama saya, tapi nama pemilik rumah yang saya kontrak) saya kadang tak mendengar. Harus menunggu dipanggil ulang atau kembali esoknya.

Tak mau buang waktu dan tenaga, akhirnya saya, kadang diwakili kerabat, memilih membayar tanggal 22 di kantor PLN Jalan Raya Bogor, Jaktim. Kenapa tanggal 22 dan kadang setelahnya? Inkaso melayani tanggal 10—20. Kalau pelanggan ke kantor PLN tanggal 21, lembar tagihan belum ditarik dari inkaso. Akhirnya petugas paham, saya sengaja telat dan siap didenda karena tak perlu antre.

Lama kemudian, berbilang tahun, datanglah era ATM bisa untuk membayar listrik dan telepon. Karena ATM di dekat supermarket Naga, Pondokgede Asri, tak berada dalam bilik, ibu-ibu di belakang saya langsung merubung setelah salah seorang bilang, “Masnya itu bayar macam-macam dari ATM.” Saya sumuk, ditanyai macam-macam. Saat itu belum ada ponsel apalagi media sosial, info tentang pembayaran via ATM belum merata.

Soal bayar via ATM saya pernah bermasalah, punya tunggakan hingga akhir tahun. Penyebabnya, saat akan membayar tagihan, ATM-nya dibobol dan dirusak perusuh, Mei 1998. ATM lain juga. Kerusuhan tanggal 12-13, saya mau bayar setelah tanggal 20 tertolak oleh sistem. Ketika saya membayar bulan berikutnya tak ada tunggakan. Bulan-bulan selanjutnya juga. Bukan salah saya dong. Sampai kemudian menjelang akhir tahun datang petugas akan mencabut instalasi. Saya harus ke kantor PLN Jatimakmur untuk mengurus. Petugas di sana tidak dapat menjelaskan kenapa sistem penagihan bisa melompat. Saya pun teringat kambing.

Kemudian setelah ponsel kian banyak pemakainya, tapi belum ada prabayar, saya juga membayar tagihan Telkomsel via ATM — sebelumnya saya membayar via loket BNI di seberang Kompleks Parlemen. Anehnya, di ATM tak muncul angka tagihan, sehingga saya harus memasukkan angka sendiri. Karena tak ingat persis angka bulat tagihan, tapi takut diblokir kalau pembayaran kurang, angka pun selalu saya lebihkan sedikit. Artinya saya punya saldo di Telkomsel.

Suatu pagi ada talkshow Telkomsel di Radio M97 FM (dulu: Radio Monalisa), stasiun classic rock kelolaan Prambors. Saya menelepon, menanya manajer Telkomsel entah bidang apa yang jadi tamu acara, tentang kelebihan bayar. Dia santai menjawab, sedikit cengengesan, ya diurus saja untuk minta restitusi. Saya tanya caranya bagaimana, datang ke kantor Telkomsel. Apa gunanya telepon seluler ya? Bagusnya dia tidak bilang datang saja ke rumah mertuanya.

Heran saya, kenapa Telkomsel tak membuat sistem yang mudah dalam angka tagihan di ATM. Saya lupa jawaban orang Telkomsel di radio, tapi kesan saya dia tak memikirkan soal itu.

Saya berprasangka, dan berharap salah, mungkin karena tagihan dia dibayarkan perusahaan sehingga dia tak paham kerepotan konsumen. Sayang saat itu belum ada media sosial untuk menyiarkan rekaman percakapan kami.

¬ Bukan posting berbayar maupun titipan