↻ Lama baca < 1 menit ↬

Jejaka kerja di kota, lupa kekasih di desa

Darma Dempul mengabari Kamso, “Cuma ngabarin aja, mohon restu. Nggak ngundang karena prokes. Ada Omicron juga. Nanti cuma ijab kabul aja, Kang.”

Si Thole, anak satu-satunya, akan menikah akhir bulan ini. Si gadis dan keluarganya di Ambarawa khawatir setelah Thole, anak Salatiga, dua tahun bekerja di Jakarta akan kepincut gadis Ibu Kota asal mana saja karena di kota metropolitan banyak cewek cantik.

Kamso tersedak sambil menahan tawa. Sebetulnya Thole meninggalkan Jogja, tempat dia kuliah hingga lulus dan bekerja di LSM, sampai kemudian bekerja di Jakarta pas awal pandemi.

Di Jakarta, Thole banyak WFH. Tapi pacar dan ortunya tetap khawatir bocah bagus itu bisa bertemu bermacam cewek ayu keren, lalu lupa pacar yang sampai kini bekerja dan indekos di Ungaran.

Kamso tak banyak berkomentar hanya tertawa terus. Akhirnya Bajul juga terbahak.

“Dulu Menik dan ibunya juga gitu, khawatir aku kepencut cewek Jakarta. Hahaha makanya aku cepet kawin, Kang.”

“Lha ya siapa sih yang nggak suka cewek cantik, Pul? Normal. Kalo emang jodoh, biar ada seribu wong ayu ya pasti jadi. Kalo nggak jodoh, padahal sepi wong ayu ya pasti nggak jadi. Gitu aja kok repot. Lha si cewek kan juga berpeluang ketemu cowok baru yang lebih oke?”

“Itu juga yang aku bilang ke anakku, Kang.”

“Yah, namanya hidup ini kan kaya akan warna. Witing tresna jalaran saka kulina, karena terbiasa. Tepatnya terbiasa dengan pesona baru, apalagi stok berlimpah, lalu terlena. Kita kan pernah muda, Pul.”

“Situ aslinya bajul juga! Hahahaha.”

“Jelas. Aku aligator, satwa yang konon monogamus.”

“Maksudnya yang resmi satu?”

¬ Gambar praolah: Benzoix / Freepik License