↻ Lama baca < 1 menit ↬

Daun dolar-dolaran bikin kaya

Punya banyak lembaran dolar. Saya suka. Misalnya sehelai daun dolar itu bernominal 100 USD tentu lumayan enak saya. Emang kalau semua kebutuhan dasar, dari makan sewajarnya sampai bayar listrik, selalu terpenuhi saya bisa ngapain aja? Investasi buat pemasukan pasif dan membantu orang lain.

Jadi kaya itu enak, apalagi kalau orang lain tak tahu saya kaya. Hanya kantor pajak yang tahu. Kalau kaya, saya bisa berlagak miskin. Nggak miskin amat sih sampai harus dapat santunan pemerintah, kalau terkuak jadi skandal nasiija. Tapi apakah mungkin seseorang kaya tanpa ketahuan, apalagi jika punya istri dan anak bahkan pacar?

Lompong bukan emas juga bikin kaya kalau ada yang mau beli mahal

Lamunan saya jauh melayang saat mengamati tanaman istri saya. Saya tak paham aneka tanaman hias. Lompong-lompongan yang ada itu varian apa saya juga tak tahu. Tapi saya pernah mendengar ada lompong emas. Misalnya itu emas beneran karya Midas, oh alangkah asyiknya.

Dolar. Emas. Memang sakti. Dengan catatan bukan dolar Zimbabwe yang pernah punya emisi uang kertas 100 triliun — silakan beli jika berminat. Entah berapa harga sebutir telur di sana waktu itu.

Dolar? Dulu ada kue dolar. Di Pasar Baru Jakarta, kepingan dolar dibuat di tempat. Di Jatisampurna, Bekasi, Jabar, ada kampung Rawa Dolar. Ridwan Saidi, budayawan Betawi, punya kisah tentang kampung itu.

Waktu saya masih SD, sebuah buku di meja kangmas saya bertuliskan Agus Hadi Dollar. Ternyata itu nama teman sekelasnya, anak Ungaran, Kabupaten Semarang. Saya membayangkan uang saku sekolahnya dolar semua.