↻ Lama baca 2 menit ↬

Jalan gelap di sebuah kompleks perumahan di Pondokmelati, Bekasi, Jabar

Terjadi di mana-mana. Ruas jalan yang diapit tembok samping rumah cenderung lebih gelap daripada ruas jalan di depan bagian rumah yang menjadi akses masuk atau entrance.

Di Pondokmelati, Bekasi, maupun di Pondok Indah, Jaksel, hal itu terjadi. Sebetulnya ada lampu penerangan jalan umum (PJU) tapi karena terhalang kerimbunan pohon peneduh jalan maka jadilah temaram.

Bahkan di Patra Kuningan, Jaksel, yang dihuni para tuan dan pejabat, dulu juga ada ruas jalan yang gelap. Bagi warganya soal keamanan mungkin bukan masalah karena mereka jarang berjalan kaki malam hari, lagi pula setiap rumah punya satpam.

Apabila jalan diapit akses masuk rumah, misalnya di kiri, tapi di sisi kanan hanya tembok panjang, seolah tanggung jawab penerangan hanya diemban pemilik rumah yang menghadap ke ruas jalan tersebut.

Hemat energi hemat biaya itu bagus, tapi mestinya empan papan. Sesuai sikon. Masa sih rumah tangga dengan listrik 3.500 kVA ke atas tidak mampu menyumbang setrum? Kini pun makin banyak pilihan lampu LED hemat energi. PJU bertenaga surya juga banyak. Apapun lampunya, nyala dan padam bisa diatur dengan timer maupun sensor.

Jalan gelap di sebuah kompleks perumahan di Pondokmelati, Bekasi, Jabar

Maka dalam urusan penerangan jalan, simpul masalah adalah kepedulian. Tentu saya tak mengabaikan soal keamanan lampu. Di lingkungan menengah ke bawah, yang sinar PJU bertiang tingginya terhalang dedaunan, lampu pada tiang rendah itu lebih riskan dicolong. Tapi masa sih semua tempat rawan pencurian lampu?

Kampung padat nan terang pada malam hari di Pondokmelati, Bekasi, Jabar

Saya sering keluar malam, dengan berjalan kaki maupun bersepeda. Saya amati tak sedikit rumah yang terlalu hemat setrum, sampai car port pun gelap. Misalnya ogah pasang timer, tapi ingin berhemat, mestinya bisa diatur lampu depan dan luar menyala mulai pukul sembilan malam, dipadamkan menjelang subuh.

Ketika membaca berita kesukacitaan warga sebuah kampung karena akhirnya listrik masuk permukiman, sehingga ke luar rumah malam hari tak perlu lampu senter, saya teringat kawasan berlistrik, berwarga mampu pula, yang seolah menyukai kegelapan, bahkan mungkin kuasa gelap.

Meskipun demikian, di gang sempit padat, secara umum terang bila malam. Setiap rumah memasang lampu di depan. Karena jalannya sempit, dan jarak rumah sangat rapat, saat malam kampung itu terang. Mereka tak pelit setrum. Kalau pelit, rumahnya akan gelap.