↻ Lama baca 2 menit ↬

Ada yang belum saya ceritakan tentang kantor pos dan wesel. Dalam foto kantor pos terakhir, yang bisa menukar wesel saya dengan uang, tampak alamatnya dalam papan nama: Pondok Gede 17414*.

Soal kode pos ini saya punya serpihan ingatan. Ketika Bekasi masih berupa kabupaten, wilayah saya, yakni Kelurahan (atau Desa?) Jatirahayu, ikut Kecamatan Pondokgede. Kantor pos sejak awal 1990-an mengampanyekan kode Pos Pondokgede 17414, bukan Bekasi 17414, melalui pembagian stiker dan peneraan cap pada amplop surat yang diterima warga.

Harapan yang beredar dikalangan sebagian warga: Pondokgede akan menjadi kota administratif, mengikuti jejak Depok dan Cimahi. Bagi saya info itu kurang jelas. Yang jelas justru info ini: sejak 1982 sudah ada Kota Administratif Bekasi, yang antara lain mencakup Pondokgede.

Kantor Pos Jatirahayu masih memasang kode pos Pondok Gede, bukan Bekasi

Info lain yang juga samar, mungkin datang dari semak belukar bincang elitis lokal, tapi menjadi harapan banyak pengurus RT dan RW, sebagian wilayah Pondokgede akan masuk DKI. Wilayah yang bakal terangkut antara lain Kelurahan Jatirahayu. Seorang ketua RT saat itu kepada saya bilang membayangkan kelak punya KTP cap Monas dengan infrastruktur wilayah, dari jalan sampai penerangan jalan, seperti Jakarta.

Mengikuti khayalan itu, sebagian blok di kompleks saya akan tetap ikut Bekasi. Batasnya adalah kanal kecil, yang memisahkan Jatirahayu, Pondokgede, dari blok seberang kanal, yang termasuk Kelurahan Jatimekar, Kecamatan Jatiasih. Blok seberang tetap akan ikut Bekasi.

Lalu ilusi Pondokgede bakal ikut DKI pun punah setelah Kota Administratif Bekasi menjadi kota pada 1997, terpisah dari Kabupaten Bekasi. Maka wilayah saya ikut kecamatan baru, namanya Pondokmelati — perumahan di seberang kanal juga berganti kelurahan, jadi Jatirahayu, menjadi sekecamatan dengan kompleks saya. Kode pos Jatirahayu tetap 17414, tapi penulisannya bukan Pondokgede 17414 melainkan Bekasi 17414. Semua layanan isian alamat daring menggiringkan nama dan kode pos itu. Misalnya dalam platform lapak daring.

Terus? Kantor Pos Jatirahayu, yang menurut Google Maps beralamatkan di Jalan Raya Hankam 144, tapi dalam papan nama kantor pos tertulis 14, tetap setia dengan kode pos Pondokgede 17414.

Masih ada cerita lainnya? Tak berkelindan dengan kode pos, pada 2019 Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi, ketika diajak wilayah tetangga ikut Provinsi Bogor Raya, malah memilih ikut DKI menjadi Jakarta Tenggara.

Itulah kisah Bekesong. Nama ledekan itu sempat membahana karena konon merupakan bagian dari kata kunci perang pendengung atau buzzer yang ditaja para pengembang properti.

Penyebabnya, masih konon, ada sejumlah permukiman besar baru di Bekasi kota dan kabupaten tersebab harga lahan di selatan dan barat Jakarta kian mahal. Lantas dengan adanya pembangunan jalur kereta cepat, wilayah timur yang tak seksi bagi orang Jakarta itu menjadi lebih layak bangun.

*) Kalau soal penulisan, seusai kelaziman nama geografis, saya lebih suka Pondokgede. Seperti Kebonjeruk, Kebonsirih, Tanahabang, serta Pondokmelati. Banyak peneliti Indonesia, bisa orang asing bisa WNA, ketika menulis dalam bahasa Inggris untuk jurnal dan makalah seminar tentang ilmu-ilmu hayati dan ilmu-ilmu kebumian, menggunakan Pondokgede. Situs-situs cuaca global juga menggunakan kata Pondokgede. Sentrapeta, yang merujuk Badan Informasi Spasial (dulu Bakosurtanal), juga menggunakan Pondokgede. Setahu saya Kemendagri, dan mungkin BIG, menggunakan Pondok Gede .