↻ Lama baca < 1 menit ↬

Menyalakan lampu luar terlalu sore padahal dalam hitungan menit hari segera gelap

Pernah kukatakan aku tak berani mendaku penikmat senja. Aku tak seromantis itu. Kehadiran senja pun kadang tak kusadari jika aku dalam ruang. Bahkan meskipun di tempat kerja aku berusaha dapat meja dekat jendela, kadang peralihan gelap dan terang tak aku rasakan.

Hanya saat di luar aku merasakan hari mulai gelap. Dari jalan kaki, bersepeda, naik ojek, naik angkutan umum, maupun naik mobil sendiri, senja itu terlihat. Perjalanan raga berpindah tempat terasa diiringi perjalanan sang kala.

Jika menyangkut senja, titik menuju matahari tenggelam tapi hanya sebagai istilah karena sang mata penanda hari tak tampak, aku rasakan saat Toa masjid menyerukan salat magrib, seperti saat aku menulis paragraf ini.

Senja sering menggelap cepat. Mungkin karena aku bukan di pantai. Bukan di negeri empat musim. Aku di Bekasi. Di teras rumah sambil ngopi.

Karena gelap cepat datang, kadang begitu sore aku sudah menyalakan lampu luar. Seperti hari ini. Biasanya ada yang menanya, masih terang kenapa sudah menyalakan lampu. Jawabanku selalu gelap yang tidak merayap, tahu-tahu mendekati malam.

Tadi lampu aku nyalakan lalu aku foto antara pukul enam pas sampai lebih tiga menit.

Senja yang cepat bersudah mengingatkanku bahwa waktu berjalan cepat, hari baru segera tiba, orang bilang itu adalah besok, tapi ada juga yang mengatakan tanggal berganti setelah senja terlampaui, padahal sering kali itu mendatangkan gundah: esok segera tiba, ada kewajiban yang harus aku penuhi. Terutama jika menyangkut uang.

Senja kemarin aku jalani di atas sadel sepeda. Aku kemarin hanya merasa menikmati hari pertama tahun ini. Sore ini adalah hari kedua, masih Ahad. Besok adalah Senin.