↻ Lama baca 2 menit ↬

Kompas dan media berbayar lain akan naik harga terus

Kompas hari ini menyertakan jaket iklan pembungkus halaman. Isinya alasan menaikkan harga langganan, paket cetak dan digital, termasuk e-paper yang isinya lebih banyak, dari Rp108.000 per bulan menjadi Rp143.000 per bulan.

Tak ada yang aneh dengan kenaikan harga pelangganan media karena keberlangsungan hidup penerbit harus dijaga. Karyawan harus digaji layak. Biaya produksi, yang bagi media lain dianggap terlalu mahal, harus tertutupi. Itu semua demi kualitas produk untuk pembaca.

Di sini saya tak akan berdebat jika gaji wartawannya bagus, biaya liputan pun bukan masalah, apakah berarti akan selalu menghasilkan konten bagus. Itu diskusi lain kali.

Kompas dan media berbayar lain akan naik harga terus

Saya juga tak akan menyoal apakah semua pengguna terdaftar aplikasi Kompas.id itu nonstop berlangganan. Tepatnya: selalu membayar saban bulan meskipun ada konten bebas akses.

Bagi saya ada hal yang menarik: apakah jumlah media berbayar akan terus bertambah?

Bayar cetak mau, bayar digital ogah

Saat ini media berbayar di Indonesia setidaknya ada Kompas.id (bukan Kompas.com, yang kata seorang pensiunan di media itu, “Orangnya beda, gajinya beda”), Kontan, majalah Tempo, Koran Tempo, Kumparan Plus, dan aneka majalah digital yang dulu juga punya edisi cetak.

Menawarkan media berbayar itu masih sulit. Berbagi tautan media berbayar di grup WhatsApp bisa dimarahi warga, karena tautan gratis pun dikalahkan oleh gambar tangkapan layar yang tak dapat dicek nyata ataukah cuma rekayasa visual.

Memang, menurut Katadata, merujuk Reuters Institute, pada 2021 Indonesia nomor dua setelah Hong Kong (berpenduduk 7,5 juta) dalam senarai negeri dengan konsumsi media berbayar tertinggi. Jauh di atas Australia, Korea Selatan, dan Jepang. Tapi itu survei tentang pengakuan pembaca, bukan dari penerbit.

Menurut kesan saya, sulit mengajak pembaca ikut mengongkosi berita daring, padahal dalam era cetak mereka bersedia membayar, dan sadar bahwa mereka bukan sekadar membeli kertas tercetak.

Ya. Kadung melekat di benak konsumen media bahwa berita daring itu harus gratis. Mereka merasa sudah membayar biaya akses internet. Bagaimana penerbit menjaga keberlangsungan hidup silakan cari jalan, yang penting jangan menjejali layar kecil ponsel dengan aneka iklan, terutama pop-up ads atau iklan sembulan.

Bagi penerbit, pembaca dengan tuntutan macam itu mau menangnya sendiri, apalagi jika pembaca memasang pengeblok iklan, sehingga penerbit membalasnya dengan pop-up juga, meminta pembaca memaklumi pentingnya iklan untuk membiayai produksi konten.

Ekosistem dan barang publik

Kompas dan media berbayar lain akan naik harga terus

Bincang panjang belum bersudah dalam bisnis media masih soal iklim bisnis yang sehat. Media berita ingin bisa hidup karena secara kelembagaan mereka menugasi diri punya fungsi sosial, dan sekaligus dari sisi keuangan sanggup menjaga keberlangsungan hidup yang berkualitas. Abstrak? Mungkin.

Ada sekian skema, dari perlakuan pajak, perlindungan hak cipta konten, sampai status public good atau barang publik — soal terakhir ini pun masih membingungkan bagi banyak orang.

Sementara itu media daring berbayar menggunakan komunikasi nan mengimbau untuk mengajak pembaca membayar. Tempo, Kompas, The New York Times, dan The Guardian, sebagai misal, mengajak pembaca menyumbang demi jurnalisme berkualitas.

Kompas dan media berbayar lain akan naik harga terus

Menyumbang? Mungkin bagi orang sinis itu eufenisme untuk membeli. Tapi menurut saya beda. Ketika biaya cetak dan kertas, serta biaya gudang dan ekspedisi, bisa dikurangi sehingga penerbit bisa menawarkan harga lebih murah, termasuk untuk mahasiswa, maka kata kontribusi menjadi lebih bermakna.

Memang sih dalam bisnis media berita daring itu biaya infrastruktur mahal. Jangankan media berita, termasuk berita hiburan, untuk blog personal saja makin banyak konten dan kunjungan pembaca berarti butuh tambahan biaya. Blog gratis dengan subdomain juga mengenal kuota.

¬ Bukan posting berbayar maupun titipan