↻ Lama baca 2 menit ↬

 Pembatasan jumlah pengudap di Bakmi GM PIM Jakarta Selatan

Terngiang optimisme nan realistis ihwal Covid-19: kelak pandemi tinggal endemi. Covid-19 tak punah, tapi skala menyempit, dan dapat teratasi seperti Malaria.

Jauh hari sebelumnya ada mantra kenormalan baru, meminjam istilah bisnis. Semuanya menyesuaikan diri, bukan hanya bermasker sehingga sebagian rias wajah perempuan pun tersembunyi, tetapi juga pergaulan manusia di ruang publik. Tata kerja juga berubah.

Termasuk dalam cakupan tata kerja adalah fasilitas niaga. Semua tata ruang toko dan kedai sebelum pandemi dirancang tanpa membayangkan wabah. Lalu ada protokol kesehatan. Semua pelaku usaha menyesuaikan diri dengan aneka panataan darurat. Satu meja berisi empat kursi hanya untuk dua orang di bagian tanpa tanda silang.

 Pembatasan jumlah pengudap di Bakmi GM PIM Jakarta Selatan

Pembatasan tanpa darurat

Saya membayangkan apakah kelak seterusnya semua toko dan kedai akan membatasi jumlah pengunjung, lebih sedikit dari kapasitas ruang versi pra-Covid-19?

Tolok ukur kapasitas, berupa sekian orang berdiri dalam sekian meter persegi, dan sekian orang duduk pada sekian meter persegi ruang berisi kursi dan meja, ditambah pergerakan orang dalam ruang, mungkin akan berbeda. Patokan dalam arsitektur dan desain interior mungkin akan direvisi. Angka persentase kapasitas dalam prokes adalah terhadap ukuran lama.

Jika ya, akan ada perubahan desain bangunan dan ruang. Untuk gudang niaga sudah lebih siap karena sebelum pandemi kalangan logistik sudah menerapkan robot. Misalnya dalam sortir barang pesanan di e-commerce. Alur gerak manusia dan barang dirancang dan diuji dalam simulasi komputer sebelum diterapkan, disertai sekian skenario “jika dan hanya jika maka anu anu anu”. Demikianlah imajinasi saya.

Pembatasan akses masuk ke Uniqlo PIM Jakarta Selatan

Arsitektur bagaimana?

Tata ruang toko-baru akan menjawab kebutuhan alur pembelanja dengan catatan misalkan saja ada rangkaian hal yang lebih buruk, dan kemudian lebih buruk lagi, daripada Omicron.

Tata ruang kedai tertutup ber-AC sampai alfresco juga akan berubah. Jumlah kursi tak sebanyak dulu. Artinya jumlah pengunjung lebih sedikit.

Pemesanan menu melalui ponsel di Bakmi GM PIM Jakarta Selatan

Maka pengudap yang nongkrong lama harus membayar lebih karena menghambat kedatangan pengudap berikutnya. Pramusaji akan melorot semua piring dan gelas dan meja, sekalian menawari tetamu mau pesan apa lagi, dengan berbekal catatan durasi kudap.

Atau bisa juga setiap nomor meja sudah menyatu dengan timer bersuara yang aktif begitu makanan dan minuman tiba, setelah kudapan dipesan dan dibayar melalui ponsel.

Eh, tapi itu imajinasi saya. Misalnya pun diberlakukan hanya bisa di area urban dan modern nan kentara. Misalnya mal dan resto-bukan-mal yang mentereng.

Optimisme

Meskipun begitu saya optimistis manusia bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan baru tanpa harus terjebak kaku dalam kedaruratan. Kekebalan meningkat, akal sehat dipelihara, semua hal yang menyangkut kesehatan dan kemaslahatan umat berdasarkan riset dan kajian ilmiah, tanpa mengabaikan fitrah sosial manusia.

Artinya… bisa saja semuanya, pada suatu titik, akan kembali ke cara pra-Covid-19. Hal sama berlaku untuk aneka moda transportasi.

Manusia adalah makhluk adaptif. Apalagi di negeri lembek dengan banyak pengabaian aturan.