↻ Lama baca < 1 menit ↬

Warung atau toko tidak bisa tutup sesuka hati

Tadi saya menanya Bu Warung Kelontong, kenapa kemarin tutup. Dia bilang ada acara di rumah mertuanya seharian.

Maka sekali lagi terbantahkan omongan orang bahwa punya warung laku itu enak. Kerja tanpa majikan. Bisa suka-suka.

Hanya orang iseng tak butuh duit yang buka warung sesuka hati. Seorang ibu, pensiunan guru, di Salatiga, Jateng, buka warung Kelontong kecil untuk mengisi pengisi waktu. “Kalo lagi males, nggak buka. Kan barangnya nggak busuk?”

Tentu merepotkan apabila suka-suka diterapkan untuk warung sayur atau buah atau ikan. Lebih repot lagi untuk warung makan, karena urusannya berlipat, bukan cuma dengan pelanggan yang bisa kapok kalau warungnya dhatnyeng tetapi juga pemasok bahan, stok, dapur, pegawai, dan lainnya. Itu tadi masalah di luar arus kas.

Begitulah, meninggalkan dagangan bukanlah perkara gampang, bahkan misalnya punya anak buah pun bukan jaminan beres.

Itu tadi warung atau toko yang laku. Kalau warung yang tak laku tapi suka-suka? Jika pemiliknya suka buang duit dan terus memperbesar takaran iseng, bisa awet usahanya. Rugi tak dalam kamus di ponselnya — misalnya dia menginstal.

Β¬ Gambar praolah: Shutterstock