• Lama baca: 2 menit →

Penomoran rumah di Indonesia bisa sesuka hati, situ jangan sambat

Sebagai bagian dari alamat rumah, nomor rumah kadang merepotkan. Barusan saya baca di Twitter soal tetangga yang tak memasang nomor sehingga kurir untuk rumah lain sampai ke rumah itu.

Baiklah, sekarang sudah zaman Google Maps. Tapi tak berarti urusan beres. Lokasi titik alamat di ponsel kurir bisa berbeda dari pemesan rujak cingur. Kadang pemesan juga sok yakin titik di ponselnya belum bergeser. Maka periksalah titik sebelum memesan.

Sebelum dan setelah era Google Maps, saya memasang nomor rumah agak tinggi, di atas gerbang carport, supaya tak tertutup mobil parkir. Tapi dengan maupun tanpa mobil parkir, para sopir taksi, tukang ojek, dan kurir tak dapat melihat nomor itu karena mereka hanya melihat gerbang, ada nomor atau tidak. Solusinya, saya menambahkan papan nomor di gerbang. Beres.

Nomor suka-suka

Tanpa Google Maps, mencari alamat itu lebih ruwet. Banyak nomor rumah tak urut secara terkelompok, terutama di tepi jalan raya yang sebelumnya sepi bangunan.

Bangunan baru tinggal merujuk rumah sebelah. Bisa menambahkan A sampai Z, bisa juga tinggal menambah atau mengurangi 1, kalau sebelah 16 berarti nomor bangunan baru 17 atau 15.

Selesai? Tidak.

Kalau jalannya panjang, terulang lagi nomor yang sama, sekilometer setelah contoh tadi. Sungguh kebatinan modern.

Penomoran aneh

Di sebuah kompleks di Bekasi, Jabar, penamaan jalan di sana disematkan oleh warga. Pak Tentara, sebagai penghuni awal, menamai jalan dengan Siliwangi. Lalu semua jalan bernama Siliwangi, tinggal menambahkan angka Romawi sampai belasan — pun A, B, C, dan D. Tapi itu tidak urut, targantung deretan rumah mana yang lebih dulu jadi dan dihuni.

Keanehan itu belum selesai. Deret nomor rumah tak mengikuti kelaziman. Biasanya sih dari satu arah, nomor genap di kiri atau kanan jalan, lalu nomor gasal sebaliknya.

Nah, di kompleks itu, deretan rumah yang berhadapan ternyata berbeda rumpun penomoran. Misalnya rumah bernomor genap 254 tak berhadapan dengan nomor ganjil 253 maupun 255, melainkan 175 atau 174.

Kok bisa? Deret kiri, di selatan jalan, dari arah timur, bernomor urut dari katakanlah 169, 170, 171, sampai 189 — kecil ke besar. Sedangkan deret kanan, di seberangnya, dari 263, 262, 261, sampai 240 — ya, dari besar ke kecil.

Warganya bingung, kurir tidak

Tampaknya penomoran itu berdasarkan nomor kaveling dari pengembang. Warga tinggal meneruskannya.

Maka ketika ada orang luar menanyakan nomor rumah yang beda deretan padahal di jalan yang sama, warga bisa berpikir lama. Ada sih jawaban cepat, tapi ngeselin, “Maaf, saya nggak tahu karena juga bingung.”

Siapa yang paling tidak bingung? Para kurir paket dan tukang pos, terutama untuk rumah yang acap menerima kiriman. Wilayah edar mereka tetap, sehingga hafal.

Kalau tukang ojek Gojek dan lainnya, apalagi dari jauh, bisa bingung karena di sana bukan wilayah kekuasaan mereka.

¬ Gambar praolah: Shutterstock

Pemilik BlogKomedi Indonesiaalamat,Google Maps,humor,kebatinan,kurir,nomor rumah,ojek,paket,posSebagai bagian dari alamat rumah, nomor rumah kadang merepotkan. Barusan saya baca di Twitter soal tetangga yang tak memasang nomor sehingga kurir untuk rumah lain sampai ke rumah itu. Baiklah, sekarang sudah zaman Google Maps. Tapi tak berarti urusan beres. Lokasi titik alamat di ponsel kurir bisa berbeda dari pemesan...Suatu atau sebuah blog?