↻ Lama baca < 1 menit ↬

Paling enak itu jadi PNS, sulit kena PHK, dapat uang pensiun pula

Seruni menepati janji, akan curhat ke Kamso dan Kamsi selepas makan siang. Tema utama mengadukan orangtua, yang menurutnya, “Mau menang sendiri, selalu pake ukuran lama.”

Soal pacaran dan menikah sudah jelas. Seruni dan cowoknya memang belum ingin dan belum siap. Tapi ada soal lain: pekerjaan.

Sudah delapan bulan ini dia kerja freelance mengurusi konten untuk komunikasi digital. Dibayar per proyek. Makin ke sini proyek makin seret. Akibatnya dia tak dapat berkontribusi untuk orangtuanya sebanyak dulu. “Padahal Mama manja, sejak dulu cuma tahu beres. Papa ngalah terus, tapi akhirnya ya nyerah setelah kena strok.”

Lalu apa masalahnya? Ibunya Seruni selalu menyalahkan putri, yang akhirnya tunggal karena kakaknya sudah ke alam baka, “Kamu sih nggak nurut Mama, makanya kena PHK.”

Apa sih nasihat Mama? “Kerja yang bener, kerja sing temen, ngono,” jawabnya.

“Bagus dan wajar dong,” sahut Kamsi.

Setelah tawa usai, dari balik maskernya Kamso menanya, “Bukannya kerjamu selama ini bagus di setiap perusahaan? Dapet penghargaan, pernah dikirim wisata ke Turki, kan?”

“Ternyata yang dimaksud kerja yang bener, kerja sing temen, menurut Mama jadi PNS atau di BUMN, soalnya aman, nggak gampang di-PHK!”

Kamso dan Kamsi saling pandang, meskipun bermasker mereka tampak sedang tersenyum.