• Lama baca: < 1 menit →

Misalnya celana dalam dihiasi arsip berita politik

Maka pikiran saya pun ke mana-mana saat melihat obral bokser dengan fashion printing. Bukan hal baru, karena sebelum ada cetak digital di atas bahan garmen, dunia fesyen di Barat tahun 60-an pun sudah mengadopsi cetak saring untuk peragaan busana siap pakai. Masih sablon manual. Dengan teknik serupa maka batik menjadi murah, terjangkau semua orang, tak semahal batik tulis — terlepas dari debat mana yang lebih mulia.

Sejauh saya tahu, layanan cetak digital to garment (DTG) saat belum menyediakan bokser dengan desain pemesan. Kalau untuk kaus, masker, tote bags, bandana, dan apron sih ada.

Misalnya penyedia jasa punya templates tentu akan membantu konsumen. Memang sih kalau pakai layout koran beneran mungkin akan tersandung urusan hak cipta.

Juga “memang sih” selain delik hukum hak cipta juga bisa mengundang keributan di media sosial. Misalnya bikin bokser, atau lycra panty, dengan cetakan berita demo khalayak mendukung pujaannya naik banding ke pengadilan tinggi.

Lho, bukannya pemesan bisa bikin layout sendiri? Bisa dituduh mengarang, bukan dari arsip, lalu dibilang insinuatif.

Eh, lalu siapa yang baca?

Pemilik BlogMemobelanja daring,belanja online,bokser,boxer,bukalapak,cetak digital,desain grafis,DTG,g-string,intoleransi,kolor,lapak daring,lycra,panty,radikalisme,sablon,sektarianismeMaka pikiran saya pun ke mana-mana saat melihat obral bokser dengan fashion printing. Bukan hal baru, karena sebelum ada cetak digital di atas bahan garmen, dunia fesyen di Barat tahun 60-an pun sudah mengadopsi cetak saring untuk peragaan busana siap pakai. Masih sablon manual. Dengan teknik serupa maka batik...Suatu atau sebuah blog?