• Lama baca: 3 menit →

Buku Yuswohadi tentang milenial sebagai pembunuh apa saja

Ketika buku ini terbit pada 2019, saya sudah pasang kuda-kuda sok tau: pasti isinya seputar perubahan yang harus dipahami para pebisnis. Soal disrupsi. Lalu ketika saya membelinya, Juni 2021, dugaan saya pun terbukti. Ada 50 perkara. Saya rugi dong?

Buku Yuswohadi tentang milenial sebagai pembunuh apa saja

Justru tidak. Saya berterima kasih kepada Yuswohady et.al karena tiga hal. Pertama: mereka menghimpun info yang terserak menjadi paket ringan renyah, lengkap dengan data dan argumentasi.

Kedua: apa yang tersebutkan saat buku ditulis, dengan data tahun sebelumnya, semakin terbukti setelah ada pandemi, 2020 hingga hari ini. Belanja daring, misalnya. Juga kerja jarak jauh.

Buku Yuswohadi tentang milenial sebagai pembunuh apa saja

Ketiga: saya punya bahan sok pinter di depan teman sebaya dan lebih tuwek tentang perubahan, apalagi jikalau mereka santun pura-pura belum tahu, tentang aneka hal dalam hubungannya dengan anak-anak kami.

Kaum milenial tak memerlukan buku ini karena mereka yang menjalani apa yang tertulis, dan mereka pun boleh tak peduli apa hasil teropongan orangtua. Boleh jadi perkembangannya sudah berbeda lagi, melampaui batas atas kegagapan ortu.

Oh, sebetulnya batas sebagian gaya milenial dan ortunya tak selalu berupa sekat tegas.

Tentang sniker misalnya, lansia pun kini ada yang nyaman pakai itu. Mirip Jokowi. Sebelum ada pandemi saya melihat beberapa bapak sepuh di gereja berkemeja batik lengan pendek dengan pantalon plus sniker. Lima tahun sebelum 2019 tidak ada. Padahal mungkin saja mereka yang hampir pensiun itu dulu ke kantor bersniker dan berjin — tetapi tidak untuk ke gereja.

Dalam beralkitab, sebagian besar bapak itu masih memakai buku tebal dengan pembatas halaman dan coretan Stabilo, sedangkan sisanya sudah berpindah ke ponsel dan tablet.

Para bapak itu tak dibesarkan oleh MTV dengan lagu tiga menitan. Mereka dulu masih telaten menikmati lagu rock dengan intro berlama-lama dan interlude bikin capai, bahkan ada lagu yang sepuluh menit lebih, karena mereka mengalami kaset yang untuk melompati trek sulit.

Para bapak itu pun sebenarnya sudah berubah, tak telaten baca koran cetak berisi kejadian kemarin.

  • Judul: Millennials Kill Everything
  • Penulis: Yuswohady, Farid Fathahillah, Budi Tryaditia, dan Amanda Rachmaniar
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
  • Cetakan: IV, Januari 2020
  • Tebal: xvi + 318 halaman
https://blogombal.com/wp-content/uploads/2021/07/wp-1625293057677-700x700.jpghttps://blogombal.com/wp-content/uploads/2021/07/wp-1625293057677-150x150.jpgPemilik BlogLihat Baca Dengarbaby boomers,generasi X,generasi Z,kaum muda,kesenjangan generasi,milenial,orang tua,orangtuaKetika buku ini terbit pada 2019, saya sudah pasang kuda-kuda sok tau: pasti isinya seputar perubahan yang harus dipahami para pebisnis. Soal disrupsi. Lalu ketika saya membelinya, Juni 2021, dugaan saya pun terbukti. Ada 50 perkara. Saya rugi dong? Justru tidak. Saya berterima kasih kepada Yuswohady et.al karena tiga hal....Suatu atau sebuah blog?