• Lama baca: 2 menit →

56 tahun Kompas, 1965-2021

Hari ini Kompas genap 56 tahun. Dulu, Juni 1965, mulanya koran baru itu akan bernama Bentara Rakjat, sesuai nama yayasan penerbitnya, namun Bung Karno memilihkan nama Kompas. Itulah nama yang pelesetannya menjadi stigma: komando pastor. Berjejak hingga kini.

Kebetulan para pendiri Kompas adalah orang-orang Katolik, ada yang menjadi bagian dari Partai Katolik, partai yang pada 1973 berfusi dalam PDI — tanpa Perjuangan — antara lain bersama PNI, Murba, dan Partai Kristen Indonesia.

Latar politik saat itu memang mengarahkan setiap kekuatan politik, termasuk militer, harus punya koran. Maka lahirlah Kompas, adiknya Intisari, majalah yang terbit dua tahun lebih dulu.

Dalam ulang tahunnya ke-56 Kompas menyoroti peran media berita dalam labirin informasi. Ujung-ujungnya publik bisa bingung.

Banyak tilikan ihwal koran, sebagai kertas maupun layar di ponsel. Masihkah bisa disebut sebagai media arus utama, atau cukup media arus utama?

Lebih dari sepuluh tahun silam sudah muncul ejekan, yang namanya mainstream media itu ya Twitter, bukan situs (atas nama) berita dan jurnalisme yang bisa dibikin oleh siapa pun — apalagi media kertas bernama koran dan majalah berita.

Pun muncul sergahan, jika media berita berbicara tentang kesimpangsiuran informasi, disinformasi, dan hoaks, apakah itu bukan bagian dari kegamangan peran diri sebagai institusi sosial di tengah titian perubahan?

Sejarah belum selesai. Transisi kian cepat. Kita adalah bagian dari transformasi itu. Proses yang rasa-rasanya mengalir begitu saja, karena informasi mutakhir tentang apapun kita petik dari media sosial, ranah yang juga menjadi ekstensi media berita.

Senyampang dengan itu, kita tersenyum meledek saat media berita, yang bahkan dengan dukungan personel kuat, sering menjadi penggema sekaligus penguat isu di medsos, karena konten medsos adalah umpan siap sambar, tinggal menambahkan konfirmasi atas nama proses jurnalistik.

Selamat ulang tahun, Bung.

56 tahun Kompas, 1965-2021

https://blogombal.com/wp-content/uploads/2021/06/wp-1624869056344-700x560.jpghttps://blogombal.com/wp-content/uploads/2021/06/wp-1624869056344-150x150.jpgPemilik BlogUmumbung karno,Frans Seda,jakob oetama,jurnalisme,jurnalistik,kompas,koran,media cetak,Orde Baru,Orde Lama,Partai Katolik,Petrus Kanisius OjongHari ini Kompas genap 56 tahun. Dulu, Juni 1965, mulanya koran baru itu akan bernama Bentara Rakjat, sesuai nama yayasan penerbitnya, namun Bung Karno memilihkan nama Kompas. Itulah nama yang pelesetannya menjadi stigma: komando pastor. Berjejak hingga kini. Kebetulan para pendiri Kompas adalah orang-orang Katolik, ada yang menjadi bagian dari...Suatu atau sebuah blog?