• Lama baca: 2 menit →

Cara membuka kantong buah yang sulit dibuka

Melihat saya kerepotan membuka kantong plastik untuk wadah buah, bahkan sampai seperti mengucek kain, seorang bapak sepuh, rapi, bersih, mendekati saya, dan berbisik, sambil mengedipkan sebelah mata, “Pakai ludah saja, Pak.”

Dia menatap keraguan di mata saya. Bukan saya tak paham maksudnya, tapi ya gimana gitu. Apalagi saya masuk Giant dengan berjalan kaki, berpeluh, dan entah sudah menyentuh apa saja. Memang, saya bawa handuk kecil tapi karena tak bawa tas maka saya tak membawa sanitizer kecil.

Lalu dengan tersenyum, dia menyentuhkan ujung jari telunjuk ke lidah, kemudian dia tempelkan ke plastik, dan terkuaklah kantong rapat itu. Saya menerka dia berkata dalam hati, kalau kekebalan kita bagus, kenapa takut?

Saya terhipnotis. Mengikuti cara dia. Berhasil. Lalu dia tertawa tertahan, “Nah, kan?”

Mestinya kantong plastik gulung itu mudah dibuka karena tekstur dibikin tidak licin. Tapi nyatanya kadang sulit.

Sabar, itu peristiwa lama sebelum ada pandemi. Dulu pun, sungguh tak macho, saya selalu membawa pembersih tangan dalam ransel. Bahkan dalam bagasi Vespa saya dulu, saat muda, ada pembilas tangan suci hama dan sabun kering setipis kertas, yang berguna saat selesai mengganti ban atau membenahi kerewelan skuter dalam perjalanan. Saya malu sebenarnya.

Barusan ketika membuka kantong sampah saya tak memakai ludah. Karena di rumah, soal membasahi jari itu gampang.

Ilmu ludah bapak itu tidak pernah saya pakai lagi di supermarket. Bukankah ada barang basah dalam lemari pendingin? Misalnya botol atau kotak karton minuman. Tak perlu mencelupkan tangan ke akuarium di konter ikan segar.

Atau, setelah ada pandemi, setetes sanitizer di tempat penimbangan pun cukup. Paling mudah ya dari sanitizer spray sendiri kalau kita bawa.

Pemilik BlogMemoMelihat saya kerepotan membuka kantong plastik untuk wadah buah, bahkan sampai seperti mengucek kain, seorang bapak sepuh, rapi, bersih, mendekati saya, dan berbisik, sambil mengedipkan sebelah mata, 'Pakai ludah saja, Pak.' Dia menatap keraguan di mata saya. Bukan saya tak paham maksudnya, tapi ya gimana gitu. Apalagi saya masuk Giant...Suatu atau sebuah blog?