• Lama baca: 2 menit →

Kardus bekas di supermarket sebagai alternatif tas keresek

Tak ada yang istimewa dengan kardus bekas di supermarket. Sebelum ada diet plastik pun sudah biasa konsumen memilih kardus. Yang menarik adalah para kasir, mayoritas perempuan, sangat cekatan mengepak barang. Ujung bolpoin mereka jadikan pisau pemotong lakban.

Meskipun begitu ada masa ketika saya kerepotan dengan kardus belanja. Hal itu karena kesalahan saya: impulsif. Dulu saya sering jalan kaki sore, rute saya tentukan sambil mengayun langkah.

Jikalau tiba-tiba saya ingin masuk Giant Extra, Naga, atau Superindo ya tinggal masuk. Misalnya ada yang terlupa barang apa yang habis, saya tinggal menelepon rumah. Itu pun dapat bonus teguran: kok nggak bilang-bilang mau belanja. Lho, kebahagiaan saya ada di penuntasan impuls. Apalagi ketika pergi sendiri. Tak perlu berkompromi.

Nah, kalau belanjaan sedikit, dibungkus tas keresek, ya tinggal saya tenteng sambil berjalan kaki.

Kalau belanjaan berat, dalam kardus, apalagi lebih dari satu kardus? Saat itu Gojek mulai ada tapi terbatas. Ponsel saya tidak saya pasangi aplikasi Gojek karena Android saya versi lama, baterai tidak kuat pakai GPS, lagi pula saya pakai kartu pasca bayar tanpa paket data, bakal mahal di tagihan kalau untuk berinternet. Maka solusi saya adalah menitipkan kardus dalam toko.

Lalu saya mencari satpam. Biasanya Mas Satpamwan punya dua solusi kalau saya tak dapat Blue Bird atau Express, dua taksi yang mau mengantar dekat. Pertama: mencarikan ojek, misalnya dengan menelepon seseorang.

Kedua? “Pak, kebetulan temen saya udah nggak tugas. Biar dia anter Bapak.” Dua tiga kali terjadi, Mas Satpamwan itu sendiri yang memboncengkan saya.

Kalau bawaan pating prenthil, kardus saya sunggi di bahu sambil membonceng motor.

Saya lupa, Pak Ojek atau Mas Satpamwan, pernah tanya, “Habis kulakan buat warung di rumah, Pak?”

Pemilik BlogMemobelanja,diet plastik,giant,kantong keresek,kardus,lingkungan,Naga,ojek,pasar swalayan,satpam,superindo,supermarket,tas keresekTak ada yang istimewa dengan kardus bekas di supermarket. Sebelum ada diet plastik pun sudah biasa konsumen memilih kardus. Yang menarik adalah para kasir, mayoritas perempuan, sangat cekatan mengepak barang. Ujung bolpoin mereka jadikan pisau pemotong lakban. Meskipun begitu ada masa ketika saya kerepotan dengan kardus belanja. Hal itu karena...Suatu atau sebuah blog?