• Lama baca: 2 menit →

Situs berita di internet harus gratis

Pakde Unceg menepikan sepeda, bersalam pagi, lalu ngoceh di depan carport Kamso.

“Situ kan kenal orang media. Apa alasannya Tempo dan Kompas punya versi yang berbayar? Kalo muncul di internet ya harus gratis to? Kan pembaca sudah bayar pake pulsa dan wi-fi di rumah?” tanya Pakde Unceg.

Kamso menjelaskan singkat, ada versi berbayar dan tidak. Yang merupakan versi ekstensi cetak, dengan pengayaan isi, biasanya berbayar.

“Ya kayak beli koran atau majalah itulah, Pakde. Bedanya ini bukan di kertas tapi di layar hape atau laptop. Nah, di versi berbayar ndak ada iklan yang mencegat pembaca,” kata Kamso.

“Iklan yang nutupi pembaca, sama isi berita yang bersambung terus itu saya ndak suka. Saya maunya semua berita gratis, juga ndak pakai iklan yang nutupi layar hape, apalagi iklan rokok!”

Kamso tertawa kecil, “Lalu uang buat nggaji wartawan sampai opis boi dari mana?”

“Mosok pembaca disuruh mikir. Ya pinter-pinternya pabrik berita cari uanglah.”

“Lha kalo yang ada di internet harus gratis semua, kesian itu pemilik lapak online. Ndak ada yang mbayar dagangan mereka.”

“Lha ya lain to, Mas. Yang dijual di internet lalu dikirim berupa paket itu kan barang nyata, bukan tulisan yang belum tentu mewakili kenyataan.”

Lalu Pakde meneruskan, “Yo wis, aku jalan dulu. Sampaikan ke teman-temannya situ di media ya.”

Saat yang sama dari dalam rumah terdengar ponsel Kamsi sedang memutar video entah dari WA entah dari FB, dengan tembang, “Angèl temen tuturanmu….”

Pemilik BlogKamso & Kamsiinternet,Kamsi,Kamso,kompas,media cetak,media daring,tempoPakde Unceg menepikan sepeda, bersalam pagi, lalu ngoceh di depan carport Kamso. 'Situ kan kenal orang media. Apa alasannya Tempo dan Kompas punya versi yang berbayar? Kalo muncul di internet ya harus gratis to? Kan pembaca sudah bayar pake pulsa dan wi-fi di rumah?' tanya Pakde Unceg. Kamso menjelaskan singkat, ada...Suatu atau sebuah blog?