• Lama baca: 2 menit →

Tawaran pesugihan tanpa tumbal maupun risiko via WhatsApp

Tanpa tumbal maupun risiko. Tawaran yang menarik via SMS. Sejauh saya pernah dengar, pesugihan menuntut tumbal, biasanya anggota keluarga. Konon pesugihan juga punya pantangan yang kalau dilanggar bisa berkibat maut, mungkin itulah yang disebut risiko.

Soal dana gaib, apalagi saat pandemi Covid-19, tentu penting. Saya mau. Uangnya untuk saya, sisanya — sedikit saja — untuk amal.

Pilih tunai atau giral?

Tentu saya harapkan uang gaib itu datang secara gaib pula, langsung masuk ke rekening saya. Kalau uang sampai di besek saya secara tunai saya khawatir itu palsu tapi saya tak tahu. Lalu ketika sedang membelanjakan maupun menyetorkan ke bank uang itu ketahuan palsu, dan ujung-ujungnya saya diperiksa polisi. Lalu jadi berita. Setiap orang yang saya traktir atau beri uang secara tunai akan was-was.

Bagaimana cara si alat pesugihan bekerja konon dengan mencuri uang tunai. Hari gini, berapa banyak orang bukan penjual yang menyimpan uang tunai?

Juga, apakah si alat kuno yang sudah ditingkatkan menjadi modern — entah tuyul, entah babi ngepet — selain bisa memindai keaslian uang kertas juga dapat membedakan denominasi?

Kalau dapat banyak uang kertas tapi dua ribuan semua, kumal pula, bukan uang baru menjelang Lebaran dari Bank Indonesia, tentu tak sepadan dari sisi perolehan maupun risiko kesehatan.

Nah, kalau uang tunai, dalam jumlah besar, secara bergelombang seminggu lima kali, katakanlah tiap bulan sampai Rp999 juta, tentu menarik. Tak akan menjadi pertanyaan bagi bank maupun PPATK karena tunai. Tiba-tiba masuk besek, tompo, oh lebih sip pakai kotak beras Cosmos.

Kalau uangnya via transfer mestinya si sistem pesugihan akan mencarikan cara memutar yang semoga aman dengan mengirimkan secara bergantian ke setiap rekening saya secara bergelombang. Intinya, ke mana uang mengalir sudah jelas, kepada saya. Dari mana hulu uang akan sulit dilacak — lha namanya gaib, kan?

Bitcoin juga membingungkan

Ah, itu hanya pengandaian saya karena saya tak paham cara gaib. Intinya saya tak paham. Sama tak pahamnya dengan bitcoin. Sudah menanya orang, cari bahan yang mudah dicerna, namun tetap saja saya tak kunjung paham bitcoin.

Anehnya meskipun tak paham saya yakin bitcoin bukan gaib. Sama seperti terhadap rumus matematika, fisika, dan kimia, meskipun tak paham saya yakin operasi penghitungan dan mekanisme bitcoin itu rasional.

Pemilik BlogKomedi Indonesiabitcoin,gaib,kauangan,kekayaan,magis,pandemi,pesugihan,rekening bank,sms,takhayul,uang palsuTanpa tumbal maupun risiko. Tawaran yang menarik via SMS. Sejauh saya pernah dengar, pesugihan menuntut tumbal, biasanya anggota keluarga. Konon pesugihan juga punya pantangan yang kalau dilanggar bisa berkibat maut, mungkin itulah yang disebut risiko. Soal dana gaib, apalagi saat pandemi Covid-19, tentu penting. Saya mau. Uangnya untuk saya, sisanya...Suatu atau sebuah blog?