• Lama baca: < 1 menit →

Mengapa orang suka pamer berlebihan di media sosial?

Selesai menutup telepon, Mbakyu Kringkring bilang kepada adik sepupunya, Kamsi, dan suaminya, “Salam dari Garengpung.”

Kamso menanyakan kesehatan Garengpung (G), teman lama mereka bertiga. Dulu G pernah ditangani Dokter Terawan.

“Baik, katanya tadi,” sahut Mbakyu.

Lalu dia pun membahas G yang makmur sejahtera, tapi tak pernah pamer beberapa mobilnya, termasuk VW kodok klasik, maupun sejumlah sepeda motornya di Jakut, dan terlebih koleksi lukisan yang sebagian besar mengisi rumah keduanya di kota lain.

“Padahal kan halal ya. Sejauh kita tahu gitu. Kenapa risi pamer di medsos ya? Jenguk anak di Jepang nggak pamer. Liburan ke luar negeri nggak cerita.”

Kamsi tersenyum, “Orang kan ada yang suka pamer, ada yang kurang suka, bahkan pol nggak suka.”

Lalu Mbakyu menanya adik iparnya, “Kalo menurutmu, Dik Kam?”

Kamso menjawab, “Cara orang mensyukuri rezeki dan keberuntungan itu beragam. Ada yang sudah merasa nyaman tanpa berbagi info pencapaian diri. Ada juga yang merasa harus berbagi, supaya orang lain termotivasi, dan dia mendapatkan peneguhan dari orang lain tentang dirinya.”

Mbakyu menukas, “Ah, mbulet. Ndakik-ndakik. Bilang aja orang suka pamer karena nggak pede, masih butuh pengakuan…”

Kamso memotong, “Artinya mereka normal. Masih punya kebutuhan sosial, berupa pengakuan dari orang lain. Hehehe…”

¬ Foto praolah: Mododeolhar/Pexels.com

Pemilik BlogKamso & Kamsieksibisionisme,gaya hidup,kesehatan mental,media sosial,narsisisme,pamer,psikologiSelesai menutup telepon, Mbakyu Kringkring bilang kepada adik sepupunya, Kamsi, dan suaminya, 'Salam dari Garengpung.' Kamso menanyakan kesehatan Garengpung (G), teman lama mereka bertiga. Dulu G pernah ditangani Dokter Terawan. 'Baik, katanya tadi,' sahut Mbakyu. Lalu dia pun membahas G yang makmur sejahtera, tapi tak pernah pamer beberapa mobilnya, termasuk VW kodok...Suatu atau sebuah blog?