• Lama baca: 2 menit →

Mencari ragam nama dalam pengumuman SBMPTN

Mahasiswa yang diterima di PTN saat ini adalah generasi Z, kelahiran 1997-2012. Nama-nama mereka diumumkan dalam kertas juga ada dalam laman digital. Nama yang banyak kembaran, dengan beragam ejaan, ada di sana.

Dulu, abad lalu, ketika saya diterima di PTN melalui Proyek Perintis I dan III, dan melihat lembar pengumuman di koran, saya langsung membayangkan nama paling banyak di kalangan mahasiswa angkatan saya. Namun saya tak mampu menghitungnya.

Lalu setelah bekerja di Jakarta, saya terkesan oleh buku daftar nomor telepon dari Telkom yang tebal banget — baik halaman putih maupun kuning. Karena disusun alfabetis bin abjadiah, bisa disigi secara manual nama paling banyak dan kantor paling banyak nomor teleponnya.

Untuk nama, seingat saya paling banyak adalah Muhammad dan Mohammad dengan varian jumlah “m” di tengah. Nama Ahmad dan Achmad juga banyak. Untuk kantor, paling banyak punya sambungan nomor langsung (direct lines) yang diumumkan adalah Pertamina. Di luar itu masih ada nomor induk hunting system yang entah membawahi berapa nomor ekstensi. Tapi saya lupa apakah pernah iseng menghitung berapa banyak nomor langsung di seluruh Divre Telkom Jakarta.

Sekarang dengan data dukcapil, pencarian nama berdasarkan periode kelahiran dan jenis kelamin plus alamat mukim, urban atau rural, secara nasional menjadi lebih mudah. Tentu dengan catatan kalau kita dapat mengakses data.

Pada generasi saya, saya beroleh kesan (tak didukung data) nama Fauzi lebih banyak ketimbang Fariz. Nama Kevin tidak banyak, karena nama itu populer untuk generasi kelahiran 1990-an. Nama Desi dengan aneka ragam penulisan dan Cynthia cukup laku di generasi kelahiran 1970-1980-an. Nama Najwa laku untuk anak kelahiran medio 1990-an dan setelahnya. Nama Slamet, Wagimin, dan Poniman mulai menipis setelah 1980-an. Sekali lagi: itu kesan saya.

Soal nama yang laku? Maksud saya di kalangan ayah dan ibu. Bukan anak yang memilih nama, bahkan terlahirkan pun mereka yang minta.

Kalau ada yang meneliti nama-nama akan menarik. Misalnya dalam sepenggal periode, katakanlah dasawarsa, berapa banyak anak bernama Arab dari pasangan orangtua yang tak bernama Arab.

Soal nama “alkitabiah” dan “gerejawi”? Di kalangan Nasrani yang mengenal nama baptis, nama seperti itu jadi tradisi dengan varian berbau Latin sampai nama yang merujuk tradisi Semit, termasuk yang sudah diindonesiakan. Yohanes, Yokanan, Giovanni, John, dan Yahya itu sama, tapi penamaan belum tentu bertaut dengan ritual dan dokumen baptis. Untuk nama Petrus dan Peter di Indonesia sejauh saya pernah dengar belum ada yang versi Arab, yaitu Butros. Kalau nama wong Indonesia Gabriel, setahu saya, jarang dijadikan Jibril.

Dari kalangan Nasrani non-Katolik bisa disigi berapa banyak pasangan Protestan yang bernama “non-alkitabiah” maupun “non-gerejawi” tapi punya anak dengan “nama Kristen” di depan nama tengah dan akhir.

Pemilik BlogUmumakta kelahiran,budaya,dukcapil,kultur,nama anak,nama Arab,nama baptis,nama bayi,SBMPTNMahasiswa yang diterima di PTN saat ini adalah generasi Z, kelahiran 1997-2012. Nama-nama mereka diumumkan dalam kertas juga ada dalam laman digital. Nama yang banyak kembaran, dengan beragam ejaan, ada di sana. Dulu, abad lalu, ketika saya diterima di PTN melalui Proyek Perintis I dan III, dan melihat lembar pengumuman...Suatu atau sebuah blog?