• Lama baca: 2 menit →

100 Tahun P.K. Ojong Kompas

Seorang kawan bertanya, apakah setelah Kompas.id hari ini (Jumat, 25/7/2020) mengenang seabad Petrus Kanisius Ojong (25 Juli 1920 – 2 Juni 1980) lantas generasi milenial menjadi peduli.

“Ndak tau aku,” sahut saya via WhatsApp.

Dia terus ngedumel, panjang lebar, tinggi dalam, intinya kuciwa dan mendakwa generasi milenial tak peduli sejarah.

Teman saya yang lain April lalu, saat Arief Budiman meninggal, punya gerutu serupa namun lebih tipis dan dia lebih kesal terhadap wartawan. Sejumlah media dalam judul menambahkan atribut “kakak Soe Hok Gie”. Dia menduga kalau Hok Gie tak difilmkan, kaum milenial pun takkan kenal dia apalagi Soe Hok Djin.

Ada sejumlah kawan saya, termasuk yang lebih tua, heran karena pada masa belia kami kenal nama, dan kadang pemikiran, sejumlah tokoh lama. Wiratmo Soekito, pasangan Soebadio Sastrosatomo dan Maria Ulfah, Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, Soedjatmoko, S.K. Trimurti, Mohammad Roem, dan seterusnya.

Jawaban saya selalu, “Zamannya udah beda. Minat juga dan selera orang juga kian beragam.”

100 Tahun P.K. Ojong Kompas

Lalu jurus pamungkas saya adalah, “Terpaan informasi kita dulu terbatas, bacaan juga terbatas kecuali punya akses ke perpustakaan termasuk perpustakaan pribadi orang tua maupun orang lain, dan rajin membeli atau meminjam koran dan majalah.”

Ada tambahan, “Dulu makanan yang kita kenal juga terbatas. Sushi dan sashimi hanya kita kenal sebagai nama tapi lidah kita belum ngerasain. Burger dulu juga awalnya cuma kita dengar namanya, begitu juga kapucino.”

Eh, masih ada bonus, “Dulu komik yang kita baca cuma Djair, Jan Mintaraga, Teguh Santoso, dan Hasmi, karena kita terasing dari manga, DC Comics, dan Marvel akibat keterbatasan akses — kecuali serial strip Spider-Man terjemahan di Suara Merdeka. TV yang kita kenal aja cuma TVRI.”

Apakah “kita” dan “kami” yang saya sebut di atas mewakili seluruh generasi baby boomers yang dulu tak akrab dengan istilah “traveling”? Tidak.

Akan tetapi dalam lingkungan saya kurang lebih begitulah.

Bukan tidak mungkin, generasi orang tua dan kakek nenek kami juga mengeluhkan kami.

Lalu dari peringatan ini adakah unsur sepele yang menarik? Ada: cara Kompas.id menuliskan nama. Dalam logo, penulis nama pakai titik, seperti dalam dokumen resmi dan undangan, sesuai kaidah, yakni P.K. Ojong.

Akan tetapi dalam judul berita dan badan teks, Kompas.id konsisten: main tabrak tanpa titik dalam menuliskan singkatan nama maupun gelar. Maka jadilah PK Ojong. Itulah gaya bahasa selingkung Kompas cetak sejak dulu. Sebuah pilihan sadar, bukan karena tak paham PUEBI yang dulu berjuluk EyD.

https://blogombal.com/wp-content/uploads/2020/07/wp-1595689088709-700x700.jpghttps://blogombal.com/wp-content/uploads/2020/07/wp-1595689088709-150x150.jpgPemilik BlogUmumEyD,komik,koran,majalah,media cetak,milenial baby boomers,novel,PK Ojong Kompas,PUEBI,sejarah,Soe Hok Djin,Soe Hok GieSeorang kawan bertanya, apakah setelah Kompas.id hari ini (Jumat, 25/7/2020) mengenang seabad Petrus Kanisius Ojong (25 Juli 1920 - 2 Juni 1980) lantas generasi milenial menjadi peduli. 'Ndak tau aku,' sahut saya via WhatsApp. Dia terus ngedumel, panjang lebar, tinggi dalam, intinya kuciwa dan mendakwa generasi milenial tak peduli sejarah. Teman saya...Suatu atau sebuah blog?