Misalkan ada versi gambar yang lebih besar, saya tetap tak sanggup menghitung jumlah nama orang Amerika yang meninggal karena Covid-19 dalam berita utama koran The New York Times edisi 24 Mei 2020.

Kematian demi kematian memang bukan soal angka. Namun ketika angka terus membengkak, dan urusan visualisasi data interaktif dapat dioper oleh komputer, sehingga sebaran hingga ke titik kasus individual pun terpetakan, apakah pembaca dapat mencerna pesan dari gambar rumit di layar, apalagi layar ponsel?

Ada yang berbahaya dengan kejenuhan, apalagi untuk pengidap aritmofibia seperti saya: serial berita yang menyangkut angka akan melelahkan dan menggelincirkan sebagian orang ke ceruk apatisme.

Pilihan editor NYT mungkin benar. Hanya jika menyangkut nama yang dikenal, atau nama sesama marga, orang akan lebih peduli. Sebagai sebuah upaya mencatat sejarah, langkah koran yang terbit sejak 1851, dan hingga kini telah memenangi 130 Anugerah Pulitzer, itu layak diacungi jempol.

https://blogombal.com/wp-content/uploads/2020/05/ee7c4243-62ee-4942-8042-571fe74891d0_1-1_copy_800x466-700x408.jpghttps://blogombal.com/wp-content/uploads/2020/05/ee7c4243-62ee-4942-8042-571fe74891d0_1-1_copy_800x466-150x150.jpgPemilik BlogMemoCovid-19,data visual,desain grafis,koran,Mataram,media,media cetak,sejarah,Sutawijaya,The New York Times,virus koronaMisalkan ada versi gambar yang lebih besar, saya tetap tak sanggup menghitung jumlah nama orang Amerika yang meninggal karena Covid-19 dalam berita utama koran The New York Times edisi 24 Mei 2020. Kematian demi kematian memang bukan soal angka. Namun ketika angka terus membengkak, dan urusan visualisasi data interaktif dapat...Suatu atau sebuah blog?