• Lama baca: < 1 menit →

Pekerja sedang menggunakan teodolit di depan Terminal Pinangranti Jakarta Timur

Operator teodolit digital itu mulanya hanya melambaikan tangan, dan tetap menyembunyikan wajah di balik alat, memberi isyarat agar saya menepi dari arah bidikan dia.

Lho, saya kan menyusuri trotoar sempit. Hanya ada dua pilihan: masuk parit atau turun ke jalan beraspal.

Akhirnya dia menyembulkan kepalanya dan bilang, “Maaf Pak, apa bisa anu anu anu anu…”

Dulu beberapa kali saya melihat orang mengira operator teodolit itu kameraman yang sedang syuting.

Pernah di Sekip, kampus UGM, Yogyakarta, seisi bus Kopata berdiri semua karena penumpang paling depan berseru (dalam bahasa Jawa), “Ada syuting!”

Di pinggir jalan tampak mahasiswa, mungkin geodesi, sedang praktik.

Sosok teodolit analog, bagi awam, dahulu kala, memang mirip kamera (analog juga) untuk gambar hidup.

Sumber foto: Worth Point

Pemilik BlogMemoalat ukur,geodesi,instrumen,pinangranti,teodolit,UGMOperator teodolit digital itu mulanya hanya melambaikan tangan, dan tetap menyembunyikan wajah di balik alat, memberi isyarat agar saya menepi dari arah bidikan dia. Lho, saya kan menyusuri trotoar sempit. Hanya ada dua pilihan: masuk parit atau turun ke jalan beraspal. Akhirnya dia menyembulkan kepalanya dan bilang, 'Maaf Pak, apa bisa...Suatu atau sebuah blog?