↻ Lama baca < 1 menit ↬

Ini masalah umum jam analog di ruang publik. Ketepatan waktu tak penting. Memang tak harus dengan presisi dan akurasi tinggi. Beda tiga menit pun tak soal.

Di Monas Jakarta beda jam beda waktu. Selisih dengan jam ponsel tidak dalam satuan jam atau setengah jam, tapi beragam seperti imsakiah Ramadan antarwilayah beda zona waktu.

Ada beberapa jam taman di sana. Sebagian hanya terisi satu sisi, lalu sisi sebaliknya tak ada jam tapi terlihat itu bekas jam.

Tapi misalkan semua jam taman itu tepat waktu, masih banyakkah orang yang peduli, Padahal hal tanpa dentang lonceng (elektronik)?

Kini arloji bukan barang mewah. Teknologi quartz menjadikan jam analog bisa murah sekali, sampai di bawah Rp100.000. Selain itu setiap ponsel punya jam digital. Masih menarikkah jam digital dan analog di area publik?