• Lama baca: 2 menit →

Untuk pertama kali saya naik Damri dari Grand Dhika Jatiwarna, Bekasi, di perbatasan Jawa Barat dan DKI. Lokasi bus mangkal tiap pagi sejauh 200 meter dari Kali Sunter yang memisahkan kedua provinsi.

Lumayan, tak terkena pengaturan gage (ganjil-genap). Bus masuk jalan tol pukul setengah tujuh. Saya tiba di halte Bank Indonesia, Jalan Thamrin, sejam kemudian, lebih lima menit.

Saya tak menghitung jumlah kursi dalam bus. Yang pasti jarak horizontal antarderet kursi cukup rapat. Orang bertubuh tambun agak kerepotan.

Demi mengejar waktu, lagi pula bus terbatas, hanya ada satu yang berangkat ke Monas, beberapa penumpang rela berdiri. Untunglah ada AC.

Halte di depan Hotel Le Meridien, Jalan Sudirman, Jakarta Pusat

Ongkos naik bus ini Rp15.000. Lebih murah ketimbang naik ojek ke Terminal Pinangranti, minimal Rp12.000, plus bayar Transjakarta Rp3.500. Busnya pun belum tentu tersedia. Untuk jurusan Kota bisa menunggu 45 menit. Penumpang harus naik jurusan lain misalnya ke Bundaran Senayan untuk kemudian berganti TJ Blok M – Kota.

Andaikan bus tak hanya jam tertentu pastilah lebih menarik. Berarti harus bikin terminal resmi dong? Yah masalah transportasi di Jabodetabek memang tidak bisa diurusi satu pihak. Rintisan BPTJ harus dikembangkan untuk memangkas kemacetan lalu lintas.

Pemilik BlogMemoBPTJ,lalu lintas,transportasiUntuk pertama kali saya naik Damri dari Grand Dhika Jatiwarna, Bekasi, di perbatasan Jawa Barat dan DKI. Lokasi bus mangkal tiap pagi sejauh 200 meter dari Kali Sunter yang memisahkan kedua provinsi. Lumayan, tak terkena pengaturan gage (ganjil-genap). Bus masuk jalan tol pukul setengah tujuh. Saya tiba di halte Bank...Suatu atau sebuah blog?