• Lama baca: 3 menit →

MAKIN BANYAK KAMUS MAKIN BAGUS.

Kesan saya mungkin salah. Makin banyak orang menyebut “fashion” (atau menuliskannya “fésyen”), bukan “mode”. Untuk generasi digital yang masa SD-nya akrab dengan arloji digital, kata “mode” merujuk pada pilihan penggunaan fitur peranti (latin: modus).

Adapun kata “modis” masih dipakai, berbarengan dengan “fashionable” dan “stylish“. Modiste? Itu dunia emak-emak, dekat dengan pesanan kebaya. Ibu-ibu muda yang membuka usaha penjahitan lebih suka menambahkan atribut “collection” bahkan “boutique“.

Itulah bahasa. Mengenal rasa dan selera zaman. Di dalamnya terkandung aspek psikolinguistik dan sosiolinguistik. Sama seperti “berondong jagung” dan “popcorn” yang secara substansial-material sama.

Yang menarik dalam istilah perbusanaan Indonesia (terima kasih kepada para editor yang memperkenalkan kata “adibusana” sebagai padanan haute couture, alta moda, dan high fashion): kita merujuk ke bahasa Belanda dan Inggris sekaligus. Sama dengan bidang teknika dan lainnya.

Hasilnya, kita sama-sama tahu, nama gelaran ini masih diterima: Lomba Perancang Mode Indonesia. Begitu juga nama wadah Ikatan Perancang Mode Indonesia dan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia. Semua memakai kata “mode”. Akan tetapi jangan menyebut “modeblad“. Hanya generasi oma-oma, termasuk para pendiri Femina (yang terilhami majalah Belanda Libelle dan Margriet), yang paham.

Maka dari kamus ini, tepatnya daftar istilah ini (karena tak ada panduan pelafalan istilah asing), saya segera mencari kata-kata yang saya sebutkan tadi. Semuanya ada — kecuali “modeblad” (kertas pola potong berskala 1:1, pattern paper). Pada era industri garmen belum semaju sekarang, modeblad adalah bonus wajib majalah wanita sampai awal 80-an (ingat Pola Burda?).

Warisan Belanda yang masih hidup tentu juga termuat dalam kamus ini. Misalnya “beha” (dari kata Belanda: buste houder), yang dalam kamus ini dipadankan dengan “kutang” (hal. 31). Memang makin ke sini orang makin akrab dengan yang satu suku kata: “bra” (lema ini, pada hal. 37, langsung merujuk ke “kutang” di hal. 128).

Bagaimana dengan istilah Belanda “voering” (Inggris: “lining“)? Dalam kamus ini menjadi lema “vuring” (hal. 218), yang merujuk ke lema “lining” (hal. 136).

Lingerie? Pasti ada lemanya, di halaman 136, cukup dengan penjelasan “istilah bahasa Prancis untuk pakaian dalam dan baju tidur wanita”. Istilah ini bagi saya penting karena tak seperti sampai awal 9o-an, sekarang di lapak terminal pun dijual lingerie yang kadang dilafalkan “lingri” (Lihat Memo: Lingri di Kolong Terminal) — repot amat kalau merujuk lafal Prancis.

G-string, thong, tanga? Ada dalam kamus. Tapi tak ada split-thong dan crocthless thong. ;) Padahal itu perlu disebut mengingat maraknya dagangan jeroan, termasuk di Facebook, yang merupakan potret perubahan sosial. Busana intim bukan hal tabu dalam percakapan publik. Media cetak gaya hidup dan hiburan merintisnya, lantas internet (media sosial dan toko online) mematangkannya. »» Lihat Memo: Lingerie Bintara dan Celana Dalam Kupu-kupu. :)

Istilah asing lain yang diserap tetapi bisa membingungkan adalah warisan Belanda “werkpak“. Sejumlah media otomotif Indonesia menyebutnya “wearpack” padahal setahu saya dalam bahasa Inggris tidak ada. Sayang, “werkpak” tidak ada ada dalam lema. Untungnya ada “workwear” (hal. 225) dan “celana montir” (hal. 47, padanan untuk “jumpsuit” di hal. 110). Lema “overall” ada (hal. 157), tetapi “celana kargo” belum ada.

Bagaimana dengan istilah lokal? Sudah pada masuk. Misalnya “mlinjon” (hal. 145) dan “jumputan” (hal. 110, dirujukkan ke “celup ikat” dan “tie dye”). Lema lain misalnya “celana pangsi” (halaman 48), “ceplokan” (hal. 48), dan “kereng” (sarung Lombok, hal. 124).

Saya berani bilang kamus ini komplet. Untuk “batik” ada hampir 30 lema (termasuk “batik fraktal”, hal. 25), begitu pula direktori nama (lebih dari 50 lema, termasuk Go Tik Swan Hardjonagoro). Buku ini memperkaya khazanah Indonesia. Setiap penulis, dari reporter, editor, sampai pengelola konten di internet, layak memilikinya.

JUDUL: Kamus Mode Indonesia • PENULIS: Irma Hadisurya, Ninuk Mardiana Pambudy, dan Herman Jusuf • PENERBIT: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2011 • TEBAL: 300 halaman • HARGA: Rp 80.000 • ISBN 978-979-22-7734-0

Pemilik BlogLihat Baca Dengarbuku,fashion,herman jusuf,irma hadisurya,kamus mode indonesia,mode,ninuk mardiana pambudyMAKIN BANYAK KAMUS MAKIN BAGUS. Kesan saya mungkin salah. Makin banyak orang menyebut 'fashion' (atau menuliskannya 'fésyen'), bukan 'mode'. Untuk generasi digital yang masa SD-nya akrab dengan arloji digital, kata 'mode' merujuk pada pilihan penggunaan fitur peranti (latin: modus). Adapun kata 'modis' masih dipakai, berbarengan dengan 'fashionable' dan 'stylish'. Modiste? Itu...Suatu atau sebuah blog?